PERJALANAN HIDUP PART 2 [By : Tj44]

Mei 28, 2018 0 Comments

ANDI ALIVIA PURWANINGSIH

Selama dua minggu belakangan ini, Yudi cukup disibukkan oleh pengurusan sana-sini untuk mengikuti UMPTN di kota Makassar. Hitung-hitung sambil menyibukkan diri agar pikirannya bisa teralihkan dari gadis bernama Vivi.

Sejak kejadian malam itu, Yudi sudah tak pernah lagi bertemu dengan Vivi. Baik itu ber-papasan dipagi hari seperti biasanya, maupun disore hari saat Yudi sedang melakukan aktivitasnya di sore hari. Yaitu, membantu sang Mamah membersihkan halaman rumah.

Kadang timbul rasa penasaran dalam diri Yudi selama ini, karena tidak seperti biasanya Vivi seperti itu. Separah apapun yang Yudi lakukan terhadapnya, pastinya 2 atau 3 hari ke-depan Vivi bakalan datang ke Yudi dan mengajaknya untuk sekedar menghabiskan waktu, baik di Mall maupun ke Pantai Losari. Meskipun, yang Yudi ingat selama ini justru masalah di awal selalu timbul karena kesalahan dari Vivi. Tapi, yah bukan Yudi namanya kalo menyalahkan Vivi saat itu. Selalu saja, ia menerima amarah dan kekesalan Vivi kala itu.

Sekarang, menurut Yudi mungkin Vivi juga sedang sibuk dengan urusan di sekolahannya. Atau mungkin, Vivi sedang mengikuti kursus belajar berbagai mata pelajaran. Ditambah lagi, Yudi sadar diri dan berfikir mungkin gadis itu masih marah terhadapnya karena telah meninggalkannya sendiri di Mall.


Back to Story...


Dan hari ini, tibalah saatnya untuk mengetahui pengumuman kelulusan Yudi akan ke fakultas mana nantinya. Dengan bermodalkan koran Fajar yang saat ini sedang ngetop-ngetopnya di kota Makassar. Sambil ditemani secangkir kopi, akhirnya Yudi membaca satu persatu ID peserta UMPTN tahun ini di koran tersebut.

Dengan perasaan yang tak menentu, Yudi dengan detail membaca koran yang saat ini terbuka lebar dihadapannya. Jari telunjuknya, bergerak mengikuti satu persatu Id yang tertera di lembar koran.

Beberapa detik, dengan jantung berdebar-debar Yudi masih mencari-cari Id-nya. Hingga, sebuah nomor dengan tulisan 8 angka membuat raut wajah Yudi berubah seketika. “YES...” Sambil menggerakkan lengan kanannya seperti gerakan ke atas bawah. Menunjukkan bahwa, apa yang ia cari-cari sejak tadi akhirnya ketemu juga. Apalagi, 2 angka terakhir yaitu angka 44 mengakhiri pencahariannya di kertas koran tersebut. “Alhamdulillah Ya Allah...” Dan mulai hari ini, 2 angka terakhir akan dijadikan oleh Yudi sebagai angka keberuntungannya.

Biar anti maenstream katanya Yudi, dikarenakan kebanyakan orang menganggap angka 44 itu adalah angka sial. Sama seperti angka 13. “Maybe...” TS Say.


Bersamaan dengan itu, tanpa sadar ternyata beberapa detik yang lalu sang Mamah sudah berdiri dibelakangnya. “Loh ada apa nak?” Tanya sang Mamah yang terkejut melihat tingkah Yudi barusan.

“Eh mamah... hehehehe,” Yudi menoleh dan hanya bisa tersenyum kecut. Namun, hanya sebentar lalu kemudian Yudi membalikkan tubuhnya sambil mengangkat koran dan menunjukkan dihadapan sang mamah.

“Udah ada beritanya nak?” Tanya wanita itu dengan perasaan yang tiba-tiba harap-harap cemas.

Yudi tersenyum. “Udah donk mah... hehehe, dan Yudi akhirnya lulus di fakultas hukum mah.” Jawabnya sambil membusungkan dadanya dihadapan sang mamah.

“Alhamdulillah nak... akhirnya, kamu bisa kuliah di hukum.” Timpal sang mamah, lalu mendekati putranya. “Kamu, gak usah mikir biaya kuliah kamu yah sayang... intinya, kamu fokus saja ke kuliah kamu... biar mamah dan papah usahakan semua biaya-biaya kamu selama kamu kuliah nantinya.”

“Itu juga yang tiba-tiba Yudi pikirkan mah.” Ujar Yudi sambil menatap wajah sang Mamah dengan penuh haru.

“Udah... kamu gak usah khawatir. Insya Allah, Mamah dan Papah akan berusaha sekuat tenaga agar kamu gak putus kuliah ditengah jalan.” Ujar wanita itu sambil mengelus lembut wajah Yudi. Seakan memberikan kekuatan ke anaknya agar tidak usah memikirkan mengenai biaya kuliahnya nanti.

“Iya mah... Yudi juga berencana nyari kerja sambilan, biar bisa nambah-nambah biaya kuliah Yudi nantinya.” Jawab Yudi membuat sang Mamah tersenyum dan dalam hatinya merasa bangga terhadap Yudi anak semata wayangnya.

“Ya udh... kamu mandi dulu gih sana, sambil tungguin papah kamu yang sebentar lagi pulang.” Ujar sang Mamah kembali tersenyum ramah.

“Siap bos.” Balas Yudi membuat mamahnya hanya geleng-geleng kepala.


Saat Yudi baru saja melangkah beberapa meter, tiba-tiba sang Mamah bertanya sesuatu ke Yudi.

“Oh iya Yud.” Yudi menghentikan langkahnya. “Kamu belum pernah ketemu lagi sama anaknya puang Andi?” Degh!!! Peryanyaan sang mamah, membuat perasaan Yudi terganggu. Terdengar suara tarikan nafas dari Yudi membuat sang Mamah ikut terharu. Biar bagaimanapun wanita itu sangat mengerti apa yang terjadi terhadap Yudi. “Ya sudah... gak usah dijawab pertanyaan mamah.” Lanjut sang mamah.

“Iya mah... lagian juga Yudi, merasa emang sudah sepantasnya Vivi marah seperti ini.”

“Enggak nak... Kamu sama sekali tidak bersalah.” Ujar sang Mamah mencoba membela anaknya.

“Dah ah... ngapain juga bahas orang lain. Mending, Yudi mandi sekarang.” Kata Yudi, lalu tanpa menunggu jawaban dari sang Mamah. Akhirnya Yudi memilih untuk segera masuk ke dalam rumah.




~•○•~


Berselang beberapa menit, Vivi bersama kedua sahabatnya sedang melangkah bersama dan hampir saja melewati pagar depan rumah Yudi. Lalu seperti biasa, Vivi mencoba untuk bersembunyi.

Vivi melangkah di samping Desy sambil men-sejajarkan langkahnya dengan langkah sahabatnya itu agar tak terlihat oleh sang pemilik rumah.

Paras wajah cantik dan menggemaskan itu tiba-tiba berubah. Perubahan wajahnya menggambarkan sebuah kekecewaan. Saat mencoba menoleh ke rumah tersebut.

Penyebabnya adalah karena ternyata, tak seorang-pun terlihat di teras rumah. “Tumben...” gumam Vivi.

“Kenapa loe?” Tanya Desy salah satu sahabatnya saat mendengar dengan jelas yang di ucapkan oleh Vivi.

“Eh enggak... hihi... gak kenapa-kenapa.” Kedua sahabatnya sedikit merasa heran. Karena, Vivi masih berdiri menatap ke arah rumah yang menurut Desy sangat sederhana. Lalu, bersamaan kedua sahabatnya-pun ikut menatap rumah tersebut dengan kebingungan.

Tentu saja, melihat kondisi rumah tersebut saat ini. Membuat kedua sahabat Vivi mengernyitkan keningnya. “Rumah siapa Vi?” Tanya Rini sahabat Vivi satunya.


“Eh anu... itu, temen gue...”

“Ohhh... Yuk ah. Ngapain juga kita berdiri disini.” Kata Desy menarik lengan Vivi.

“Iya...” kata Vivi, lalu dengan langkah yang berat akhirnya mengikuti langkah kedua sahabatnya menuju kerumahnya.


Beberapa detik, Vivi kembali menoleh ke belakang. Dan, orang yang selama ini ia hindari tak kunjung terlihat batang hidungnya. “Fiuhhh...” Akhirnya, setelah menarik nafasnya yang terasa berat. Vivi mengejar langkah kedua sahabatnya hingga tiba di depan pintu pagar rumahnya.


Sore ini, setelah selesai latihan basket. Kedua sahabat Vivi memilih mampir ke rumah Vivi karena lapangan basket tempat latihan mereka tak jauh dari rumah gadis itu.

Sebetulnya Vivi mengikuti latihan basket hanya ingin lebih dekat dengan Evan yang saat ini telah resmi menjadi kekasihnya. Bahkan 2 hari sebelum kejadian malam itu. Malam dimana, Vivi membuat ulah dan seolah-olah semua kesalahan ada di Yudi. Pria yang juga selama ini, Vivi hindari.


Bukan karena Vivi marah...



Justru Vivi sadar akan kelakuannya selama ini. Makin hari, pola pikir gadis itu mulai berubah sedikit demi sedikit. Dan menyadari jika selama mereka bermusuhan, awal mula kesalahan pasti terjadi karena dia sendiri. Yang membuat Vivi tak habis fikir, kenapa Yudi tak pernah sedikit-pun menyalahkannya?

Vivi seringkali pulang naik Becak, dan tak berhenti di depan rumah Yudi seperti sebelum-sebelumnya. Vivi sengaja memilih langsung berhenti di depan rumahnya.

Kadang ada rasa rindu untuk menjahili pria itu. Apalagi mengingat kesabara Yudi selama ini dihadapannya. Dengan sabar mengikuti semua kemauan Vivi.


Dan Vivi bersyukur. Dengan adanya Evan, sedikit demi sedikit menghilangkan sebuah perasaan aneh dalam diri Vivi terhadap Yudi.

“Jiah dia melamun...” kata Desy yang sejak tadi menatap Vivi sedang melamun.

“Iya nih... loe lagi berantem ma kak Evan?” Balas Rini membuat Vivi kembali ke alam sadarnya.

“Eh... hehehe, enggak kok. Gue ma kak Evan baik-baik aja.” Jawab Vivi nyengir.

“Terus... apa gerangan hingga membuat loe melamun kek gini?” Tanya Desy yang sejak tadi memperhatikan tingkah Vivi yang sedikit aneh menurutnya.

“Kepo loe ah... ya udh, yuk masuk dulu gih.” Ujar Vivi dan mencoba mengalihkan pembicaraan dengan mengajak masuk kedua sahabatnya.

“Kebiasaan...” Gumam Desy lalu mengikuti Vivi masuk ke dalam rumah melewati pintu samping pagar rumah gadis itu.




~•○•~


Beberapa hari kemudian...



Hari ini Yudi sedang berbelanja beberapa keperluan saat di kampus nantinya. Dengan memegang beberapa tas kresek yang berisikan beberapa buku dan juga ATK (Alat Tulis Kampus), Yudi sedang melangkah di pinggir jalan menuju ke sebuah toko baju yang terkenal murahnya.

Makassar saat ini baru saja di guyur hujan deras, mengakibatkan beberapa genangan air terlihat di beberapa jalan.

Dan saat baru saja melewati sebuah genangan air di pinggir jalan, tiba-tiba bersamaan sebuah mobil baru saja melewatinya dan...

“HEI...” Teriak Yudi saat mobil yang baru saja lewat menyipratkan air yang tergenang di jalan kepada. Brakk!!! Dan refleks, Yudi memukul bagian belakang mobil.


Ciiiiiitttt....!!! Mobil mengerem tiba-tiba tak jauh dari posisi Yudi berdiri.


“Arrrggghhh….” Yudi menjerit kesal karena pakaiannya sedikit basah. Dan bersamaan seorang pria keluar dari mobil lalu menghampiri-nya.

“Woi... kenapa loe pukul mobil gue?” Tanya pria yang hampir setinggi Yudi. Namun, jika dilihat Yudi masih tinggi yang mungkin 2 atau 3 centi saja.

Tentu saja, Yudi langsung menoleh dan mengernyitkan keningnya.

“Dasar orang kampung...” Kembali pria pemilik mobil melempar kata-kata yang cukup memancing emosi Yudi.

Namun, sampai saat ini Yudi hanya memilih membersihkan bajunya tanpa menjawab pertanyaan pria yang saat ini telah menatapnya penuh amarah.

“Woi... liat gue.” Kembali pria pemilik mobil menghardik Yudi.


“Sudah?” Gumam Yudi.

“WHAT???”

“Anda yang menyimpratkan air yang tergenang dijalan... Malah anda yang marah?” Kata Yudi membuat pria dihadapannya mengepalkan kedua tangannya.

“Elu tuh... yang gak punya mata?”

“Loh... kok saya sih? Kan saya hanya jalan doank.” Jawab Yudi menyeringai.

“Loe nantang gue?” Kata pria itu kembali.

“Enggak ah... anda saja tuh yang merasa tertantang.” Kata Yudi makin membuat pria dihadapannya melangkah maju. “Mau berantem disini?” Kembali Yudi bergumam saat mereka berdiri berhadapan.


“Dasar udik... Rasain nih,” Bersamaan pria itu mengayunkan lengan kanannya seakan ingin memukul wajah Yudi. TAP!!! Namun, dengan cepat Yudi menangkap kepalan tangan pria itu.

“Masih kurang keras pukulanmu bos.” Gumam Yudi, lalu memutar lengan pria itu membuat pria itu meringis kesakitan.

Yudi mendorong tubuh pria itu ke belakang. “Udah... belajar dulu sana cara berantem yang benar.” Kata Yudi mengolok pria itu.

“Anjinggggg...” Sekali lagi pria itu mencoba keberuntungannya dengan melayangkan sebuah tendangan.


Yudi hanya menggeser kekiri tubuhnya, lalu dengan cepat Yudi melayangkan sebuah pukulan di perut pria itu. BUGH!!! “Arghhhh...”

“Ck...ck...ck... Mau saya beliin rok ma daster gak?” Kata Yudi saat pria itu terjatuh dan memegang perutnya yang terasa sakit.

“Awas nah... nanti gue laporin ke polisi baru tau rasa.”

“Nah benerkan... Hahahaha, dasar banci.” Kata Yudi, lalu saat ingin menyentuh wajah pria itu tiba-tiba pintu mobil bagian kiri terbuka. Dan, terlihat seorang gadis baru saja keluar dari mobil.


“Kak Evan...” Gadis itu berlari lalu menghampiri pria yang sedang kesakitan dihadapan Yudi.

Mengetahui siapa gadis itu, membuat Yudi melangkah mundur dan jantungnya kini berdebar kencang.

Saat gadis itu menoleh ke atas, matanya menyala dan menatap wajah Yudi penuh kebencian.


“YUDI... APA-APAAN LOE?” Hardi gadis itu membuat Yudi kembali menarik nafas.

“Ma-maaf Vi...”

“HALAAAAHHHH... MAU JADI JAGOAN DISINI?” Hardik gadis itu kembali, membuat Yudi memilih menundukkan wajah karena tak mampu melihat amarah gadis itu.

“AWAS LOE YAH... GUE LAPORIN LOE KE NYOKAP GUE!!!”

“Eh...” Yudi menatap gadis itu penuh harap. Namun, terlanjur gadis itu sudah emosi sejadi-jadinya.


“Dasar cowok UDIK!!!” Kata Gadis itu membuat hati Yudi makin ter-iris iris. “Yuk kak... Gak usah ladenin cowok udik ini... Malu tau.”

“Iya sayang...” Degh!!! Mendengar kata ‘Sayang’ membuat hati Yudi tiba-tiba terasa perih.


Sambil membantu pria itu berdiri, maka gadis itu pun melangkah bersama menuju ke mobil. Meninggalkan seribu pertanyaan dibenak Yudi yang hanya bisa menatap kepergian kedua muda mudi itu.

Namun, saat baru saja tiba dimobil. Gadis itu menoleh...


Namun sayang, bersamaan Yudi menunduk karena tak mampun menahan gejolak dalam hatinya saat ini. Ingin rasanya, ia meneriakkan sebuah kata bahwa... Ini bukan salah dia.

Saat terdengar suara gas, membuat Yudi mengangkat wajahnya dan menatap kepergian mobil dihadapannya. Meninggalkan perasaan bersalah Yudi yang makin besar terhadap gadis itu.

“Maafkan Yudi Vi...” Gumam Yudi sambil memegang dadanya yang makin terasa sakit.




~•○•~




Beberapa saat kemudian…


Selama perjalanan, tampak Vivi mencoba menghibur Evan yang masih saja memegang perutnya.

“Kak... masih sakit?” Tanya Vivi.

Pria itu menoleh ke samping, lalu melempar senyuman ramah. “Enggak kok sayang... Mungkin bentar lagi sembuh.”

“Duhhh... kok jadi Vivi yang merasa bersalah ihhhhh.” Kata Vivi.

“Emang kamu kenal cowok tadi?” Tanya Evan sambil tangan kirinya yang tadi memegang perutnya bergerak meraih tangan kanan gadis itu.

“Dia tetangga Vivi kak... emang sih, dia itu sering mengikuti kejuaran Taekwondo di kota ini. Makanya pas tau tadi orang yang memukul Kak Evan adalah dia. Vivi langsung marah besar.” Jawab Vivi sambil sejenak menarik nafasnya dalam-dalam. “Dan kak Evan gak pantas berantem sama dia... karena pasti kakak akan kalah.”

“Fiuhhh, pantesan.” Gumam Evan membuat Vivi menatap wajah pria itu seakan meminta maaf atas kesalahan yang diperbuat Yudi tadi.

“Maafin teman Vivi yah kak...” Kata Vivi membuat Evan hanya mengangguk dan tersenyum dihadapan gadis itu.

“Dasar preman kampung...” Gumam Evan. “Gampang sih kalo mau balas ke dia.”

“Maksud kakak?”

“Tinggal suruh saja beberapa orang suruhanku untuk memberi perhitungan ke dia...” Jawab Evan membuat Vivi mengernyit.

“Buat apa kak? Mending gak usah kak... Plisss.”


“Iya Vi, kan aku bilang kalo aku mau...” Kata Evan membuat Vivi menghela nafas.

“Fiuhhh, ya sudah.”


“Oh iya, mau kemana kita?” Tanya Evan membuat Vivi kembali menoleh.

“Gak tau.” Jawab Vivi.

“Ya sudah... kalo gitu kita makan dulu yuk.” Kata Evan dan dijawab anggukan kepala oleh gadis itu.



~•○•~


Beberapa hari kemudian...



Hubungan Vivi dan Yudi makin hari makin jauh. Dimana, selama ini jika Yudi berpapasan dengan gadis itu. Seakan Yudi adalah sampah yang tak ingin dilihatnya.

Yah, Yudi hanya pasrah dengan keadaan. Dan memilih untuk fokus ke proses pendaftaran kembali ke Universitas Hasanuddin Makassar.

kalau Yudi ingat-ingat semuanya. Justru, dia ingin menertawai kebodohannya yang selama ini selalu mengalah. Selalu ingin menjadi orang yang disalahkan.


Dan hari ini, adalah hari pertama Yudi masuk kuliah diFakultas Hukum UNHAS.

“Hayo AYP... kamu bisa. HU...HA...” Gumam Yudi meneriakkan dan menyemangati dirinya sendiri. Lalu, melanjutkan langkahnya kembali menuju tempat dimana ia harus kuliah.

Letak kampus Yudi dengan halte bus memang sedikit jauh, kurang lebih jalan kaki bisa 5-10 menit dari halte bis. Yah, nasib Mahasiswa yang hidup pas-pasan. Jadi, hari pertama kuliahnya harus memakai angkot.

Saat melihat gapura masuk fakultas, sebuah tulisan HUKUM melengkung di atas dan tepat berada didepan gedung kampus. Jalan berpaving, setelah gapura, dengan kanan kirinya tempat parkir yang lumayan luas. Anak tangga berlapis ubin di ujung jalan ber-paving. Dengan langkah gontai Yudi melanjutkan langkahnya yang sesaat terhenti untuk sekedar menetralkan perasaannya.

Pepohonan-pepohonn rimbun mengelilingi fakultas, membuat Jalan yang dilalui oleh Yudi menjadi sedikit gelap dan teduh, jarak antara pintu masuk ke gedung dari pertama kali Yudi merasakan adem, lumayan jauh.

Saat masuk ke dalam gedung, bagian dalam seperti sebuah aula, cukup luas dengan beberapa tulisan petunjuk menuju ke arah lantai dua dan tiga gedung ini. Lantai dua, untuk administrasi (tata usaha), perpustakaan. Lantai tiga, ruang dosen, ketua jurusan dan ruang rapat, begitu yang tertulis di papan petunjuk.

Yudi hanya bisa tersenyum, sambil melewati sebuah tangga menuju ke lantai atas, menuju ke sebuah pintu yang terbuka lebar.

Langkah-nya masih bingung, asing tak tahu harus kemana. Tak pernah sama sekali Yudi melihat tempat ini sebelumnya. Berdiri, bingung, tak tahu arah.


Namun tiba-tiba... Bugh!!!


“Woi punya mata gak?” Wanita berhijab, dengan bola mata yang indah menatap Yudi yang baru saja bertabrakan dengannya.

“Eh... Maaf.” Kata Yudi.

Beberapa detik, gadis itu menatap Yudi sambil mengernyit. “Bentar...” Gumam gadis itu tak melepaskan tatapannya.

Jari telunjuknya mengarah ke wajah Yudi. “Elu kan? Bentar... duhhh kok gue lupa.”

Yudi hanya bisa mengernyit membalas tatapan gadis dihadapannya. “Kamu Lily kan?” Tanya Yudi membuat gadis itu mengangguk sambil melempar senyum.

“Yah gue ingat... SMP 1 kan?” Ujar gadis itu.

“Yes...”

“Yah, gue ingat... Nama loe Yudhistira kan?” Tanya gadis itu membuat Yudi mencoba mengingat-ngingat nama gadis itu.

“Kamu Lily kan? Lily Kurniawati...” Jawab Yudi menyebut nama lengkap gadis itu.


LILY KURNIAWATI


“Astagaaa... loe kok sekarang tambah tinggi Yud.” Kata Lily sambil mengulurkan tangannya mengajak Yudi bersalaman.

“Hehehe, maklum... kebanyakan makan gabah.” Balas Yudi membuat gadis itu mengernyit.

“Apa hubungannya?”

“Hahahaha, bercanda kale... Oh iya, kamu kuliah di Hukum juga?” Tanya Yudi.

“Yoi... loe juga?” Tanya Lily balik ke Yudi.

“Iya...”

“Hahahaha, kok bisa samaan yah.” Kata Lily tertawa dihadapan Yudi. Dan satu hal yang Yudi tangkap. Gadis itu, cukup manis saat tertawa. Dan yang membuatnya makin menambah kemanisannya, yaitu belahan tipis di dagunya. Asyik... TS Say



“Eh btw... pasti loe belum tau mau kemana kan?” Tanya Lily sambil menyipitkan matanya.

“Yah begitulah.”

“Ya udah... mending loe jangan jauh-jauh dari gue...”

“Maksudnya...” Kata Yudi, namun gadis itu dengan cepat memegang lengan Yudi lalu menariknya. “Eh... mau kemana?”

“Udah... banyak bacot.”


Akhirnya mereka melangkah bersama menuju ke tempat yang semestinya. Namun, tiba-tiba saat mereka hampir tiba. 2 orang gadis yang tak berhijab melihat keduanya langsung berteriak memanggil nama Lily.


“LILYYYYY GATELLLLLL!!!”


“Eh...” DEGH!!!




Still Continued...

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard.

0 komentar: