PERJALANAN HIDUP PART 3 [By : Tj44]
ANDI ALIVIA PURWANINGSIH
Sore hari...
Setelah mereka berpamitan antara satu sama lainnya, tampak Yudi mulai melangkah sendiri menuju ke tempat pemberhentian Bus dan Angkot. Jaraknya lumayan, namun Yudi telah terbiasa seperti ini.
Beberapa motor melewati Yudi dan ada juga yang sempat menegurnya yang dibalas dengan lambaian tangan.
Tanpa Yudi sadari, sejak tadi sebuah motor seakan mengambil jarak dibelakang Yudi. Dan pengendara moge dengan Helm besar menutupi kepalanya seakan sengaja mengikuti Yudi beberapa meter dibelakang.
Saat Yudi telah tiba di halte atau pemberhentian Bus dan angkot, pengendara motor mempercepat laju kendaraannya dan berhenti tepat di hadapan Yudi. CIIITTTTT!!!
“He...” Yudi tampak sedikit terkejut, lalu pengendara moge itu melepas helm-nya yang menutupi keseluruhan wajahnya. Namun, yang Yudi tangkap pengendara motor itu adalah se-orang perempuan. Karena terlihat, bagian belakang menyisahkan rambut panjangnya.
Seperti adegan Slow Motion, pengendara motor melepas helmnya dan terlihat Yudi tak berkutik sama sekali.
Betul tebakan Yudi, kalau dia seorang perempuan.
Lebih tepatnya seorang gadis, dengan hidung mancung dan tatapan sendu. Senyuman manis beserta rambut yang sedikit berwarna yang baru saja ia kibaskan dihadapan Yudi.
“Hi...” Ujar gadis itu menampakkan gigi ginsunnya yang menambah kemanisannya.
“Ck...ck...ck... Kamu ternyata Ra.” Ujar Yudi membalas senyuman gadis itu.
“Panggil nata aja, atau Renata sekalian.” Ujar gadis itu. Dan Yudi sesaat mengernyit, lalu seperti tersihir ia menggelengkan kepalanya sendiri dihadapan gadis itu.
“Kan sejak dulu Yudi manggil kamu Rara...” Ujar Yudi membuat gadis itu menggelengkan kepalanya.
“Enggak usah manggil kek gitu... cukup Nata aja.”
“Ribet amat... terserah kamu aja Non.” Kata Yudi dan dibalas oleh gadis itu dengan memanyunkan bibir.
“Hehehe, gak pernah berubah.” Kata Yudi membuat gadis itu mengernyit.
“Dah ah... oh iya, mau bareng gak?” Tanya gadis itu membuat Yudi menatapnya.
“Hmm,”
“Udah... gak usah banyak mikir, mending loe naik gih dibelakang.” Kata gadis itu membuat Yudi makin bingung.
“Helm kamu ada?”
“Gak ada... ngapain juga pake helm, udah... nanti kalo ditilang itu urusan gue.” Jawab gadis itu membuat Yudi geleng-geleng kepala.
“Terus kamu gitu yang boncengin aku?”
“Iya... kenapa emangnya?” Tanya gadis itu.
“Yah, gak etis aja cewek bonceng cowok...” Jawab Yudi membuat gadis itu memicingkan kedua matanya menatap manja ke Yudi.
“Sini, biar aku aja yang bonceng.” Kata Yudi.
“Ya udah...” Akhirnya gadis itu bergantian dengan Yudi, dan helm digunakan oleh Yudi sedangkan gadis itu membiarkan rambutnya tergerai dan melambai diterpa angin sore kota Makassar.
Saat di perjalanan, Yudi berusaha mencari jalan-jalan tikus agar bisa terbebas dari petugas. Mengingat, gadis dibelakangnya tak memakai helm.
“Ar... gue peluk yah.” Ujar gadis itu membuat Yudi hanya mengangguk. “Thanks...” Ujar gadis itu yang samar-samar terdengar di telinga Yudi.
Kemudian, saat pertigaan jalan Urip dan Pettarani, gadis itu bersuara lagi dengan nada yang sedikit keras. “Oh iya, loe dah makan pa belum?”
“Belum... kenapa emang?” Jawab Yudi yang juga ikut mengeluarkan suara keras.
“Yuk, kita makan dulu...”
“Dimana?”
“Terserah... atau enggak kita ke pantai losari aja.” Jawab gadis itu yang masih rapat memeluk tubuh Yudi dari belakang.
“Ok!!!”
Beberapa saat kemudian...
Pantai losari makassar, adalah sebuah pantai yang sangat terkenal yang terletak di makassar. Pantai yang sangat indah yang berada Jalan Penghibur sebelah barat kota Makassar. Pantai ini adalah sarana berkumpul dan hiburan bagi warga Makassar dan para wisatawan untuk sekedar melepas penat dan sarana hiburan . Pantai ini ramai hampir di setiap waktu pagi, sore dan malam hari.
Apalagi, sepanjang pinggiran pantai telah ramai para pedagang kaki lima yang mulai me-masang tenda-tendanya untuk menjajakkan jualannya dimalam hari.
Yudi dan Indra aka Rara memilih tempat yang berhadapan dengan pertigaan jalan dan juga berhadapan dengan sebuah Cafe yang terletak persis di ujung pertigaan jalan.
“Disini aja gak papa Ra?” Ujar Yudi saat meng-standarkan motor. Lalu, membuka helmnya dan tampak butiran-butiran keringat di dahinya.
“Iya...” Kata Rara tanpa mengalihkan tatapannya ke wajah Yudi.
“Kenapa?” Tanya Yudi. Dan, Rara hanya bisa nyengir.
“Yuk...”
“Hayo...” Mereka berdua melangkah menuju ke salah satu tenda yang tertulis di gerobak bagian depan ‘Tersedia, Nasi goreng, Mie Goeng, Ayam Lalapan dan lain-lain’.
Keduanya memilih duduk di bebatuan yang terbentang panjang di pinggiran pantai. “Duduk disini aja Ra.” Kata Yudi mengajak Rara duduk di sampingnya.
“I-iya...” Kata Rara terlihat kikuk.
Saat mereka baru saja duduk, seorang pria baru saja menghampirinya. “Permisi mas... mba, mau pesan apa?”
“Loe makan paan Ar?” Tanya Rara dan tampak Yudi sedang berfikir sesaat.
Satu hal yang saat ini Yudi khawatirkan, yaitu dikantongnya saat ini hanya terdapat selembar uang 5ribu. Sedangkan harga makanan seporsinya saat ini-pun diharga 5rbuan.
“Ra...” Gumam Yudi menatap gadis itu dari samping.
Rara mengernyit saat mendapati wajah penuh harap disampingnya. Lalu, gadis itu tersenyum. “Udah... gue yang bayar.”
“Hehehe, thanks.” Kata Yudi sambil garuk-garuk kepala yang tak terasa gatal sama sekali.
“Ya udah... pesan gih.” Ujar gadis itu lalu menoleh ke Yudi kembali.
“Hmm, nasi goreng ma teh manis aja mas.” Kata Yudi menyebutkan pesanannya. “Kamu?”
“Samain aja mas.” Balas Rara sambil tersenyum dihadapan pria pemilik warung.
“Oke ditunggu yah...”
Saat sepeninggalan pemilik warung, Rara dan Yudi sesaat saling bertatapan. Dan, Yudi yang mulai melempar senyuman hangat membuat gadis itu tersipu.
“Loe gak pernah berubah yah Ar.” Kata Rara. “Arfandy Yudhistira... Hehehe, gue masih inget nama lengkap loe kan...” Ujar Rara membuat Yudi mengangguk.
“Kan, dulu waktu di SMP gue manggil loe tuh, Ar. Biar beda dari yang lainnya...”
“Oh iyakah?” Tanya Yudi.
“Lupakan...” Balas Rara cemberut.
“Hahahaha, oh iya Lily ma Uchi kemana?” Yudi mencoba mengalihkan obrolan sambil menoleh.
“Keknya lagi pada pacaran...”
“Ohhh...” Gumam Yudi sambil mangguk-mangguk gak jelas. “Oh iya, balik yuk... keknya enakan menghadap ke pantai deh Ra.” Lanjut Yudi, sambil membalikkan tubuhnya ke pantai.
“Iyakah?” Kata Rara sambil mengikuti apa yang dilakukan Yudi barusan.
Posisi mereka berdua masih duduk berdampingan. Dan, kaki mereka bergelantungan. Sedangkan sesekali, mereka saling menoleh dan melempar senyuman yang tak diketahui maknanya.
Dan tak lama, pesanan mereka tiba. Lalu, Rara mengajak Yudi untuk menyantap makanan mereka berhubung perut mereka mulai terasa keroncongan.
“Mari makan...” Ujar Rara.
Saat mereka makan, sesekali Yudi melempar beberapa candaan dan di balas oleh gadis itu yang terlihat cukup manis bagi Yudi.
Gigi ginsunnya itu, yang sangat menarik perhatian Yudi untuk tak melepas pandangannya dari wajah gadis itu.
“Ini...” Ujar Yudi, sambil menunjuk ke arah mulu gadis itu. Ternyata sayuran tertinggal di ujung bibir kanan Rara.
“Makasih...”
“Sama-sama...” Balas Yudi dengan senyuman hangat.
“Mayan juga yah nasgor-nya.” Kata Rara mencoba mengalihkan obrolan.
“Hmm... Nyam-nyam... Iya, mayan.” Kata Yudi sambil mengunyah makanannya.
“Oh iya setelah ini, mau kemana?” Tanya Rara lagi.
“Gak tau... paling pulang.” Jawab Yudi membuat Rara tersenyum kecut.
“Kirain...”
“Kirain paan?” Tanya Yudi.
“Kirain mau ngajak gue kemana gitu.” Ujar Rara membuat Yudi mengernyit.
“Gak ada duit kali Ra mau ngajakin kamu jalan-jalan... yang ada, kamu pasti yang akan repot untuk bayarin aku.”
“Hihihihi, yah asal gak mintanya macam-macam sih.” Balas Rara sambil tertawa. Dan Yudi, yang mendengarnya ikutan tertawa.
Hingga tampak di piring keduanya tak tersisa lagi, akhirnya mereka meneguk minumannya bersama-sama. “Hashhhhh...”
“Kenyang.”
“Iya.” Balas Rara.
Setelah makan, mereka menyempatkan menikmati sunset yang sebentar lagi terbenam di lautan. Sungguh indah dipandang, duduk berduaan sambil mengobrol santai seperti sepasang kekasih membuat Yudi maupun Rara kadangkala salah tingkah saat mereka menoleh bersamaan.
“Hahahahaha, apaan sih Ar.”
“Kamu kenapa?”
“Gak kenapa-kenapa...” Jawab Rara membuat Yudi geleng-geleng kepala.
“Eh Btw, yuk ah... dah mulai malam nih.” Kata Yudi setelah beberapa menit kemudian.
“Ntar... gue bayar dulu.”
“Oke tuan putri!”
Moge yang dikendarai Yudi berhenti tepat di depan pagar rumah yang cukup sederhana. Gadis yang berada dibelakang Yudi, yang pertama kali turun kemudian Yudi membuka helmnya sesaat sebelum ikutan turun dari motor.
“Thanks yah Ra...” Ujar Yudi.
“Iya Ar... sama-sama.” Balas gadis itu.
“Mau mampir gak?” Tanya Yudi yang sebetulnya mencoba basa-basi. Lalu, tampak gadis itu menoleh sesaat ke rumah Yudi. Kemudian, tersenyum hangat sambil menatap wajah Yudi yang kini berdiri persis dihadapannya.
Gadis itu, hanya sebatas pundak Yudi saat mereka berdiri berdekatan.
“Hmm, gak berubah yah rumah loe.” Kata Rara masih saja tersenyum.
“Hehehe, yah seperti yang kamu liat.” Balas Yudi sambil menarik nafasnya dalam-dalam.
“Tetangga idola loe mana?” Tanya Rara mengingatkan ke Yudi tentang se-seorang yang dulu menjadi adik kelas mereka saat di SMP.
“Ohh, gak tau kemana.” Balas Yudi sekadarnya.
“Loh... kalian udah gak berhubungan lagi?”
“Masih kok... kan, sejak dulu kami hanya sahabatan doank.” Kata Yudi membuat Rara hanya menghela nafasnya yang terasa sedikit berat.
“Ohh...”
Saat mereka sedang asyik mengobrol, dari jarak beberapa meter. Lebih tepatnya, di depan pagar tampak seorang gadis yang sengaja menyembunyikan dirinya dibalik pagarnya sedang memperhatikan mereka.
Raut wajah yang sangat sukar di gambarkan dengan kata-kata. Yah, gadis yang sedang memperhatikan Yudi dan Rara dari kejauhan tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya saat ini.
“Oh iya, gue dah mau cabut nih Ar.” Ujar Rara.
“Yakin gak mau mampir?” Tanya Yudi.
“Hmm, lain kali aja deh... Kan besok-besok masih bisa.” Jawab Rara mencoba menolak permintaan Yudi secara halus.
“Ya sudah deh...”
“Ya udah, sini helm gue.” Kata Rara meminta helm yang masih dipegang oleh pria itu.
“Nih...”
“Gue balik dulu yah Ar.” Kata Rara setelah memasang helm dikepala, kemudian membuka kaca pelindung wajah.
“Sipp... ti hati yah.”
“Ok bos...” BRUMMMMMM!!!
Yudi menatap kepergian Rara yang mulai menjauh dari lorong gank kompleks-nya. Lalu, saat setelah menghela nafas akhirnya Yudi membalikkan tubuh dan melangkah masuk ke rumah.
Saat Yudi baru saja memegang pintu pagar, tiba-tiba gadis yang sejak tadi memperhatikannya dengan tergesa-gesa mendekati Yudi.
Beberapa detik, gadis itu mencoba mengatur nafasnya dan mencoba memikirkan kalimat yang tepat yang akan ia ucapkan.
Yudi yang merasa ada seseorang di belakangnya, sesaat mengernyitkan keningnya.
Seperti gerakan slow motion, Yudi menoleh kebelakang sesaat. Degh!!!
Saat mengetahui siapa yang berada dibelakangnya, Yudi kembali menatap ke depan.
“Eh... Baru pulang yah?” Suara gadis itu terdengar berserak membuat Yudi mencoba menetralkan perasaannya.
“I-iya...”
“Ohh...” Gadis itu menarik nafas dalam-dalam, kemudian memilih meninggalkan Yudi yang masih berdiri mematung di depan pintu pagar.
Saat langkah kaki gadis itu terdengar ditelinga Yudi yang makin menjauh darinya, sekejap ia membalikkan tubuhnya.
“Vi...” Degh!!! Gadis itu menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke belakang. “Kamu baik-baik saja?”
Gadis itu menarik nafasnya dalam-dalam, sesaat sebelum ia menjawab pertanyaan Yudi hanya dengan gelengan kepala.
“Ohh...” Hanya satu kata itulah yang bisa terucap di mulut pria itu.
“Adalagi?” Tanya gadis itu yang masih membelakangi Yudi.
“Gak ada...” Kata Yudi.
“Kalo udah gak adalagi... Gue pergi dulu.” Kata gadis itu tanpa sedikitpun menoleh ke belakang.
Tidak mendapat tanggapan dari Yudi, ia mencoba menahan sesuatu yang tiba-tiba mengganggu perasaannya.
“Selamat yah... dah punya cewek.” DUGH!!!
Yudi membelalakkan matanya, jantungnya berdebar-debar saat mendengar ucapan gadis itu barusan.
Gadis di depannya saat ini, memang Yudi akui selalu beruba-ubah mood. Dan hari ini, terbukti sejak beberapa minggu tak pernah saling sapa. Kini, justru gadis itulah yang pertama menghampirinya.
Apakah, gadis itu ingin mencoba berdamai dengannya?
Ataukah, justru gadis itu akan membuat onar seperti sebelum-sebelumnya jika ada teman cewek Yudi yang datang kerumah?
“Kok diam?” Gadis itu kembali bersuara membuat Yudi makin bingung.
“Punya kebiasaan baru kalo bicara ma orang lain itu harus dengan cara seperti itu yah? Membelakangi orang!Huh?” Tanya Yudi.
“Tadi cewek loe yah?”
“Kalo iya kenapa... kalo bukan kenapa?” Yudi bertanya balik dengan nada yang sedikit penekanan.
“Gak apa-apa... cuman nanya doank.” Balas gadis itu yang masih saja membelakangi Yudi hingga saat ini.
“Ohh, ya udah... kalo gitu Yudi masuk dulu.” Ujar Yudi sesaat setelah menghela nafasnya yang terasa berat.
“Ok...” Kriekkkk!!! Pintu pagar terbuka, dan Yudi segera melangkah masuk. Dan bersamaan juga, gadis itu membalikkan tubuhnya. Menatap sosok Yudi yang mulai menjauh darinya.
Setelah tarikan nafas panjang...
Gadis itu mulai mengeluarkan suaranya kembali.
“BESOK... LOE ADA ACARA GAK?” DUGH!!!
Still Continued...
LILY KURNIAWATI
“GATEEEEEELLLL...” Salah satu gadis manis ikut meneriakkan panggilan akrab Lily, dan bersamaan Yudi yang berdiri di samping gadis yang bernama lengkap Lily Kurniawati ikut menoleh.
Serasa tak asing, wajah kedua gadis itu yang telah mendekati mereka berdua.
“Hadehhh... gebetan baru lagi Ly?” Tanya salah satu gadis yang tiba-tiba menyenggol lengan Lily.
“Hmm, mayan juga sih.” Gadis satunya lagi menimpali. “Eh tapi... bentar, keknya nih cowok gak asing deh.”
Yudi yang baru saja mengingat nama kedua gadis itu, akhirnya tersenyum. “Astaga... kamu Uchi kan? Dan kamu Indrawati kan?” Kata Yudi.
Serasa tak asing, wajah kedua gadis itu yang telah mendekati mereka berdua.
“Hadehhh... gebetan baru lagi Ly?” Tanya salah satu gadis yang tiba-tiba menyenggol lengan Lily.
“Hmm, mayan juga sih.” Gadis satunya lagi menimpali. “Eh tapi... bentar, keknya nih cowok gak asing deh.”
Yudi yang baru saja mengingat nama kedua gadis itu, akhirnya tersenyum. “Astaga... kamu Uchi kan? Dan kamu Indrawati kan?” Kata Yudi.
RENATA INDRAWATY
“Eh iya... kok tau?” Gadis bernama Indra baru saja memasang wajah penuh tanya.
“Astaga loe berdua... masa gak kenal sih ma dia?” Kata Lily, membuat kedua temannya menggelengkan kepala. Namun, salah satu gadis yang bernama Indra masih terdiam dan menatap wajah Yudi sambil mengernyit.
“Dia Yudhi... nak 3 E di Spenza dulu.” Jawab Lily membuat kedua gadis di sebelah kiri dan kanannya itu saling menoleh bergantian.
“Bentar... yang nak olah raga itu kan?” Ujar Uchi yang mulai mengingat siapa Yudi sebenarnya.
“Bukan Chi... dia yang si jago silat itu...” Kata Indra membuat Lily dan Yudi tertawa.
“Hahahahaha, kok jago silat sih.”
“Terus apa donk?” Tanya Uchi.
“Yah, lebih tepatnya olah raga aja sih.” Ujar Yudi.
“Loe kuliah disini juga Ar... Eh Yud?” Tanya Indra yang sejak tadi tak melepaskan tatapannya ke Yudi.
“Iya Ra... berarti, kalian juga kuliah disini bareng Lily?” Tanya Yudi balik.
“Yuuuuuu, kami bertiga kan gak bisa terlepaskan.” Jawab Lily membuat kedua gadis di sampingnya ikutan mengangguk membenarkan ucapan gadis itu.
“Dasar...” Gumam Yudi sambil geleng-geleng kepala.
“Ya udah, kalo gitu yuk kita masuk...” Kata Lily lalu memegang kembali lengan Yudi.
“Eh... gak pake acara pegang-pegangan juga kali non.” Kata Yudi mencoba memprotes apa yang dilakukan oleh Lily.
“Hihihihi, maaf!!!” Ujar Lily kemudian melepaskan lengan Yudi. “Yuk ah.”
“Hayo...”
Mereka ber-empat melangkah bersama melewati bagian dalam gedung. Kemudian, mereka melewati sebuah pintu yang membuat susana menjadi lebih terang dari sebelumnya, sebuah tanah lapang dari paving dengan taman dimana-mana. Setiap pohon besar ada tempat duduk, beberapa mahasiswa tampak disana. Jumlahnya lumayan juga, dan kelihatannya satu angkatan terdiri ratusan orang, benak Yudi saat ini.
“Eh iya Yud... kemarin loe gak ikutan pengenalan kampus yah?” Tanya Lily membuat Yudi mengernyit.
“Emang ada?” Tanya Yudi.
“Ya Allah... hahahaha dasar.” Kata Uchi dan di timpali oleh Indra.
“Dan siap-siap, kalo ketemu ma senior bakalan kena hukuman loe nantinya.” Kata Lily dan Yudi hanya menggidikkan kedua bahunya.
Akhirnya mereka tiba di depan sebuah kelas. Dengan pintu yang diatasnya bertuliskan sebuah huruf (B). Ruang kelas dengan susunan kursi yang tak ada bedanya dengan susunan di SMK Yudi dulunya. Perbedaannya, hanya di bangkunya saja.
“Yud... loe deket gue yah duduknya.” Ujar Lily mencoba melempar senyuman ke Yudi.
“Iya...” Kata Yudi meng-iyakan permintaan Lily.
Saat beberapa orang saling berkenalan dan saling menyapa antara satu sama lainnya, berbeda dengan yang Yudi lakukan. Dimana Yudi hanya diam, dan sesekali tersenyum saat Lily maupun Uchi mengajaknya bercanda. Berbeda dengan gadis bernama lengkap Renata Indrawaty. Dimana, gadis itu sejak tadi masih saja mencuri-curi pandang ke Yudi.
Seakan ada hal yang ingin ia katakan kepada Yudi. Maybe... TS Say!!!
Selang beberaapa saat akhirnya dosen masuk. “Selamat pagi...” Ucap dosen wanita. Dan satu kata yang terlintas di pikiran Yudi saat pertamakali melihat Ibu dosen. ‘Cantik dan Seksi’.
Lalu dilanjutkan sesi perkenalan yang dimulai dari dosen itu, dilanjutkan perkenalan satu persatu yang berada dalam ruangan.
Keakraban, canda tawa yang terbangun hari ini sedikit banyaknya bisa mengurangi rasa gugup yang di alami oleh Yudi. Dan semoga saja, dengan adanya teman baru di kampus mampu menghilangkan pikirannya ke Vivi.
Setelah semuanya selesai memperkenalkan diri, maka Ibu dosen mulai membuka sebuah buku. “Okay, kita mulai...” Ibu Dosen membuka mata kuliah mereka dan tampak hampir semua dalam ruangan terdiam. Semuanya memperhatikan dengan seksama yang dijelaskan oleh Ibu Dosen.
Beberapa saat kemudian...
Saat ibu Dosen mulai melangkah keluar dari ruangan. Suasana kelas mulai sedikit berisik. Ada yang saling olok-olokan, ada yang saling bercanda gurau bahkan saat Yudi mencoba melirik ke arah tiga gadis seangakatannya saat di SMP dulu-pun baru saja reberes beberapa perlengkapan ATK-nya.
Lalu, tanpa Yudi sadari Indra juga sedang menatapnya dari samping.
Saat mata mereka saling bertemu, Yudi hanya bisa melempar senyum ramah, lalu dibalas anggukan pelan yang entah apa arti dari anggukan tersebut.
“Oh ia Yud...” Lily yang memang duduk berdampingan dengan Yudi, menoleh.
“Kenapa?”
“Tadi loe ngampus naek paan?” Tanya Lily.
“Pete-pete...” Jawab Yudi. Wajah yang tadinya ceria berubah menjadi sedikit kecewa.
“Yahhh... gak jadi nebeng donk.” Gumam Lily. Sedangkan Uchi yang duduk di depan mereka ikutan menoleh ke belakang.
“Hahahaha, pupus deh harapan loe untuk jadiin Yudi gebetan loe.” Kata Uchi membuat Yudi mengernyit.
“Enak aja loe Chi... lagian, Yudi bukan type gue.” Lily mencoba menangkis perkataan Uchi.
“Hahaha, lagak loe Lily yang terkenal kegatelannya seantero jagad raya ini.”
“Hush... udah...udah, kalian berdua itu berisik banget.” Indra yang sejak tadi diam, mengeluarkan suara.
“Jiahhhh pencitraan lagi nih doi Ly... mentang-mentang... Ups!!!” Kata Uchi lalu menutup mulutnya yang hampir saja keceplosan. Dan, tampak Indra menatap Uchi dengan mata melotot. “Tuh kan... ada yang marah... Hihihihi.”
Yudi yang memperhatikan ketiga gadis itu hanya bisa tersenyum, dan sesekali ikutan nyeletuk saat membahas tentang SMP mereka dulunya.
Hingga tak terasa, waktu telah masuk ke mata kuliah yang kedua. Suasana ruangan kembali sepi, dan hanya suara dosen terdengar menjelaskan di depan.
“Astaga loe berdua... masa gak kenal sih ma dia?” Kata Lily, membuat kedua temannya menggelengkan kepala. Namun, salah satu gadis yang bernama Indra masih terdiam dan menatap wajah Yudi sambil mengernyit.
“Dia Yudhi... nak 3 E di Spenza dulu.” Jawab Lily membuat kedua gadis di sebelah kiri dan kanannya itu saling menoleh bergantian.
“Bentar... yang nak olah raga itu kan?” Ujar Uchi yang mulai mengingat siapa Yudi sebenarnya.
“Bukan Chi... dia yang si jago silat itu...” Kata Indra membuat Lily dan Yudi tertawa.
“Hahahahaha, kok jago silat sih.”
“Terus apa donk?” Tanya Uchi.
“Yah, lebih tepatnya olah raga aja sih.” Ujar Yudi.
“Loe kuliah disini juga Ar... Eh Yud?” Tanya Indra yang sejak tadi tak melepaskan tatapannya ke Yudi.
“Iya Ra... berarti, kalian juga kuliah disini bareng Lily?” Tanya Yudi balik.
“Yuuuuuu, kami bertiga kan gak bisa terlepaskan.” Jawab Lily membuat kedua gadis di sampingnya ikutan mengangguk membenarkan ucapan gadis itu.
“Dasar...” Gumam Yudi sambil geleng-geleng kepala.
“Ya udah, kalo gitu yuk kita masuk...” Kata Lily lalu memegang kembali lengan Yudi.
“Eh... gak pake acara pegang-pegangan juga kali non.” Kata Yudi mencoba memprotes apa yang dilakukan oleh Lily.
“Hihihihi, maaf!!!” Ujar Lily kemudian melepaskan lengan Yudi. “Yuk ah.”
“Hayo...”
Mereka ber-empat melangkah bersama melewati bagian dalam gedung. Kemudian, mereka melewati sebuah pintu yang membuat susana menjadi lebih terang dari sebelumnya, sebuah tanah lapang dari paving dengan taman dimana-mana. Setiap pohon besar ada tempat duduk, beberapa mahasiswa tampak disana. Jumlahnya lumayan juga, dan kelihatannya satu angkatan terdiri ratusan orang, benak Yudi saat ini.
“Eh iya Yud... kemarin loe gak ikutan pengenalan kampus yah?” Tanya Lily membuat Yudi mengernyit.
“Emang ada?” Tanya Yudi.
“Ya Allah... hahahaha dasar.” Kata Uchi dan di timpali oleh Indra.
“Dan siap-siap, kalo ketemu ma senior bakalan kena hukuman loe nantinya.” Kata Lily dan Yudi hanya menggidikkan kedua bahunya.
Akhirnya mereka tiba di depan sebuah kelas. Dengan pintu yang diatasnya bertuliskan sebuah huruf (B). Ruang kelas dengan susunan kursi yang tak ada bedanya dengan susunan di SMK Yudi dulunya. Perbedaannya, hanya di bangkunya saja.
“Yud... loe deket gue yah duduknya.” Ujar Lily mencoba melempar senyuman ke Yudi.
“Iya...” Kata Yudi meng-iyakan permintaan Lily.
Saat beberapa orang saling berkenalan dan saling menyapa antara satu sama lainnya, berbeda dengan yang Yudi lakukan. Dimana Yudi hanya diam, dan sesekali tersenyum saat Lily maupun Uchi mengajaknya bercanda. Berbeda dengan gadis bernama lengkap Renata Indrawaty. Dimana, gadis itu sejak tadi masih saja mencuri-curi pandang ke Yudi.
Seakan ada hal yang ingin ia katakan kepada Yudi. Maybe... TS Say!!!
Selang beberaapa saat akhirnya dosen masuk. “Selamat pagi...” Ucap dosen wanita. Dan satu kata yang terlintas di pikiran Yudi saat pertamakali melihat Ibu dosen. ‘Cantik dan Seksi’.
Lalu dilanjutkan sesi perkenalan yang dimulai dari dosen itu, dilanjutkan perkenalan satu persatu yang berada dalam ruangan.
Keakraban, canda tawa yang terbangun hari ini sedikit banyaknya bisa mengurangi rasa gugup yang di alami oleh Yudi. Dan semoga saja, dengan adanya teman baru di kampus mampu menghilangkan pikirannya ke Vivi.
Setelah semuanya selesai memperkenalkan diri, maka Ibu dosen mulai membuka sebuah buku. “Okay, kita mulai...” Ibu Dosen membuka mata kuliah mereka dan tampak hampir semua dalam ruangan terdiam. Semuanya memperhatikan dengan seksama yang dijelaskan oleh Ibu Dosen.
Beberapa saat kemudian...
Saat ibu Dosen mulai melangkah keluar dari ruangan. Suasana kelas mulai sedikit berisik. Ada yang saling olok-olokan, ada yang saling bercanda gurau bahkan saat Yudi mencoba melirik ke arah tiga gadis seangakatannya saat di SMP dulu-pun baru saja reberes beberapa perlengkapan ATK-nya.
Lalu, tanpa Yudi sadari Indra juga sedang menatapnya dari samping.
Saat mata mereka saling bertemu, Yudi hanya bisa melempar senyum ramah, lalu dibalas anggukan pelan yang entah apa arti dari anggukan tersebut.
“Oh ia Yud...” Lily yang memang duduk berdampingan dengan Yudi, menoleh.
“Kenapa?”
“Tadi loe ngampus naek paan?” Tanya Lily.
“Pete-pete...” Jawab Yudi. Wajah yang tadinya ceria berubah menjadi sedikit kecewa.
“Yahhh... gak jadi nebeng donk.” Gumam Lily. Sedangkan Uchi yang duduk di depan mereka ikutan menoleh ke belakang.
“Hahahaha, pupus deh harapan loe untuk jadiin Yudi gebetan loe.” Kata Uchi membuat Yudi mengernyit.
“Enak aja loe Chi... lagian, Yudi bukan type gue.” Lily mencoba menangkis perkataan Uchi.
“Hahaha, lagak loe Lily yang terkenal kegatelannya seantero jagad raya ini.”
“Hush... udah...udah, kalian berdua itu berisik banget.” Indra yang sejak tadi diam, mengeluarkan suara.
“Jiahhhh pencitraan lagi nih doi Ly... mentang-mentang... Ups!!!” Kata Uchi lalu menutup mulutnya yang hampir saja keceplosan. Dan, tampak Indra menatap Uchi dengan mata melotot. “Tuh kan... ada yang marah... Hihihihi.”
Yudi yang memperhatikan ketiga gadis itu hanya bisa tersenyum, dan sesekali ikutan nyeletuk saat membahas tentang SMP mereka dulunya.
Hingga tak terasa, waktu telah masuk ke mata kuliah yang kedua. Suasana ruangan kembali sepi, dan hanya suara dosen terdengar menjelaskan di depan.
~•○•~
Sore hari...
Setelah mereka berpamitan antara satu sama lainnya, tampak Yudi mulai melangkah sendiri menuju ke tempat pemberhentian Bus dan Angkot. Jaraknya lumayan, namun Yudi telah terbiasa seperti ini.
Beberapa motor melewati Yudi dan ada juga yang sempat menegurnya yang dibalas dengan lambaian tangan.
Tanpa Yudi sadari, sejak tadi sebuah motor seakan mengambil jarak dibelakang Yudi. Dan pengendara moge dengan Helm besar menutupi kepalanya seakan sengaja mengikuti Yudi beberapa meter dibelakang.
Saat Yudi telah tiba di halte atau pemberhentian Bus dan angkot, pengendara motor mempercepat laju kendaraannya dan berhenti tepat di hadapan Yudi. CIIITTTTT!!!
“He...” Yudi tampak sedikit terkejut, lalu pengendara moge itu melepas helm-nya yang menutupi keseluruhan wajahnya. Namun, yang Yudi tangkap pengendara motor itu adalah se-orang perempuan. Karena terlihat, bagian belakang menyisahkan rambut panjangnya.
Seperti adegan Slow Motion, pengendara motor melepas helmnya dan terlihat Yudi tak berkutik sama sekali.
Betul tebakan Yudi, kalau dia seorang perempuan.
Lebih tepatnya seorang gadis, dengan hidung mancung dan tatapan sendu. Senyuman manis beserta rambut yang sedikit berwarna yang baru saja ia kibaskan dihadapan Yudi.
“Hi...” Ujar gadis itu menampakkan gigi ginsunnya yang menambah kemanisannya.
“Ck...ck...ck... Kamu ternyata Ra.” Ujar Yudi membalas senyuman gadis itu.
“Panggil nata aja, atau Renata sekalian.” Ujar gadis itu. Dan Yudi sesaat mengernyit, lalu seperti tersihir ia menggelengkan kepalanya sendiri dihadapan gadis itu.
“Kan sejak dulu Yudi manggil kamu Rara...” Ujar Yudi membuat gadis itu menggelengkan kepalanya.
“Enggak usah manggil kek gitu... cukup Nata aja.”
“Ribet amat... terserah kamu aja Non.” Kata Yudi dan dibalas oleh gadis itu dengan memanyunkan bibir.
“Hehehe, gak pernah berubah.” Kata Yudi membuat gadis itu mengernyit.
“Dah ah... oh iya, mau bareng gak?” Tanya gadis itu membuat Yudi menatapnya.
“Hmm,”
“Udah... gak usah banyak mikir, mending loe naik gih dibelakang.” Kata gadis itu membuat Yudi makin bingung.
“Helm kamu ada?”
“Gak ada... ngapain juga pake helm, udah... nanti kalo ditilang itu urusan gue.” Jawab gadis itu membuat Yudi geleng-geleng kepala.
“Terus kamu gitu yang boncengin aku?”
“Iya... kenapa emangnya?” Tanya gadis itu.
“Yah, gak etis aja cewek bonceng cowok...” Jawab Yudi membuat gadis itu memicingkan kedua matanya menatap manja ke Yudi.
“Sini, biar aku aja yang bonceng.” Kata Yudi.
“Ya udah...” Akhirnya gadis itu bergantian dengan Yudi, dan helm digunakan oleh Yudi sedangkan gadis itu membiarkan rambutnya tergerai dan melambai diterpa angin sore kota Makassar.
Saat di perjalanan, Yudi berusaha mencari jalan-jalan tikus agar bisa terbebas dari petugas. Mengingat, gadis dibelakangnya tak memakai helm.
“Ar... gue peluk yah.” Ujar gadis itu membuat Yudi hanya mengangguk. “Thanks...” Ujar gadis itu yang samar-samar terdengar di telinga Yudi.
Kemudian, saat pertigaan jalan Urip dan Pettarani, gadis itu bersuara lagi dengan nada yang sedikit keras. “Oh iya, loe dah makan pa belum?”
“Belum... kenapa emang?” Jawab Yudi yang juga ikut mengeluarkan suara keras.
“Yuk, kita makan dulu...”
“Dimana?”
“Terserah... atau enggak kita ke pantai losari aja.” Jawab gadis itu yang masih rapat memeluk tubuh Yudi dari belakang.
“Ok!!!”
Beberapa saat kemudian...
Pantai losari makassar, adalah sebuah pantai yang sangat terkenal yang terletak di makassar. Pantai yang sangat indah yang berada Jalan Penghibur sebelah barat kota Makassar. Pantai ini adalah sarana berkumpul dan hiburan bagi warga Makassar dan para wisatawan untuk sekedar melepas penat dan sarana hiburan . Pantai ini ramai hampir di setiap waktu pagi, sore dan malam hari.
Apalagi, sepanjang pinggiran pantai telah ramai para pedagang kaki lima yang mulai me-masang tenda-tendanya untuk menjajakkan jualannya dimalam hari.
Yudi dan Indra aka Rara memilih tempat yang berhadapan dengan pertigaan jalan dan juga berhadapan dengan sebuah Cafe yang terletak persis di ujung pertigaan jalan.
“Disini aja gak papa Ra?” Ujar Yudi saat meng-standarkan motor. Lalu, membuka helmnya dan tampak butiran-butiran keringat di dahinya.
“Iya...” Kata Rara tanpa mengalihkan tatapannya ke wajah Yudi.
“Kenapa?” Tanya Yudi. Dan, Rara hanya bisa nyengir.
“Yuk...”
“Hayo...” Mereka berdua melangkah menuju ke salah satu tenda yang tertulis di gerobak bagian depan ‘Tersedia, Nasi goreng, Mie Goeng, Ayam Lalapan dan lain-lain’.
Keduanya memilih duduk di bebatuan yang terbentang panjang di pinggiran pantai. “Duduk disini aja Ra.” Kata Yudi mengajak Rara duduk di sampingnya.
“I-iya...” Kata Rara terlihat kikuk.
Saat mereka baru saja duduk, seorang pria baru saja menghampirinya. “Permisi mas... mba, mau pesan apa?”
“Loe makan paan Ar?” Tanya Rara dan tampak Yudi sedang berfikir sesaat.
Satu hal yang saat ini Yudi khawatirkan, yaitu dikantongnya saat ini hanya terdapat selembar uang 5ribu. Sedangkan harga makanan seporsinya saat ini-pun diharga 5rbuan.
“Ra...” Gumam Yudi menatap gadis itu dari samping.
Rara mengernyit saat mendapati wajah penuh harap disampingnya. Lalu, gadis itu tersenyum. “Udah... gue yang bayar.”
“Hehehe, thanks.” Kata Yudi sambil garuk-garuk kepala yang tak terasa gatal sama sekali.
“Ya udah... pesan gih.” Ujar gadis itu lalu menoleh ke Yudi kembali.
“Hmm, nasi goreng ma teh manis aja mas.” Kata Yudi menyebutkan pesanannya. “Kamu?”
“Samain aja mas.” Balas Rara sambil tersenyum dihadapan pria pemilik warung.
“Oke ditunggu yah...”
Saat sepeninggalan pemilik warung, Rara dan Yudi sesaat saling bertatapan. Dan, Yudi yang mulai melempar senyuman hangat membuat gadis itu tersipu.
“Loe gak pernah berubah yah Ar.” Kata Rara. “Arfandy Yudhistira... Hehehe, gue masih inget nama lengkap loe kan...” Ujar Rara membuat Yudi mengangguk.
“Kan, dulu waktu di SMP gue manggil loe tuh, Ar. Biar beda dari yang lainnya...”
“Oh iyakah?” Tanya Yudi.
“Lupakan...” Balas Rara cemberut.
“Hahahaha, oh iya Lily ma Uchi kemana?” Yudi mencoba mengalihkan obrolan sambil menoleh.
“Keknya lagi pada pacaran...”
“Ohhh...” Gumam Yudi sambil mangguk-mangguk gak jelas. “Oh iya, balik yuk... keknya enakan menghadap ke pantai deh Ra.” Lanjut Yudi, sambil membalikkan tubuhnya ke pantai.
“Iyakah?” Kata Rara sambil mengikuti apa yang dilakukan Yudi barusan.
Posisi mereka berdua masih duduk berdampingan. Dan, kaki mereka bergelantungan. Sedangkan sesekali, mereka saling menoleh dan melempar senyuman yang tak diketahui maknanya.
Dan tak lama, pesanan mereka tiba. Lalu, Rara mengajak Yudi untuk menyantap makanan mereka berhubung perut mereka mulai terasa keroncongan.
“Mari makan...” Ujar Rara.
Saat mereka makan, sesekali Yudi melempar beberapa candaan dan di balas oleh gadis itu yang terlihat cukup manis bagi Yudi.
Gigi ginsunnya itu, yang sangat menarik perhatian Yudi untuk tak melepas pandangannya dari wajah gadis itu.
“Ini...” Ujar Yudi, sambil menunjuk ke arah mulu gadis itu. Ternyata sayuran tertinggal di ujung bibir kanan Rara.
“Makasih...”
“Sama-sama...” Balas Yudi dengan senyuman hangat.
“Mayan juga yah nasgor-nya.” Kata Rara mencoba mengalihkan obrolan.
“Hmm... Nyam-nyam... Iya, mayan.” Kata Yudi sambil mengunyah makanannya.
“Oh iya setelah ini, mau kemana?” Tanya Rara lagi.
“Gak tau... paling pulang.” Jawab Yudi membuat Rara tersenyum kecut.
“Kirain...”
“Kirain paan?” Tanya Yudi.
“Kirain mau ngajak gue kemana gitu.” Ujar Rara membuat Yudi mengernyit.
“Gak ada duit kali Ra mau ngajakin kamu jalan-jalan... yang ada, kamu pasti yang akan repot untuk bayarin aku.”
“Hihihihi, yah asal gak mintanya macam-macam sih.” Balas Rara sambil tertawa. Dan Yudi, yang mendengarnya ikutan tertawa.
Hingga tampak di piring keduanya tak tersisa lagi, akhirnya mereka meneguk minumannya bersama-sama. “Hashhhhh...”
“Kenyang.”
“Iya.” Balas Rara.
Setelah makan, mereka menyempatkan menikmati sunset yang sebentar lagi terbenam di lautan. Sungguh indah dipandang, duduk berduaan sambil mengobrol santai seperti sepasang kekasih membuat Yudi maupun Rara kadangkala salah tingkah saat mereka menoleh bersamaan.
“Hahahahaha, apaan sih Ar.”
“Kamu kenapa?”
“Gak kenapa-kenapa...” Jawab Rara membuat Yudi geleng-geleng kepala.
“Eh Btw, yuk ah... dah mulai malam nih.” Kata Yudi setelah beberapa menit kemudian.
“Ntar... gue bayar dulu.”
“Oke tuan putri!”
~•○•~
Moge yang dikendarai Yudi berhenti tepat di depan pagar rumah yang cukup sederhana. Gadis yang berada dibelakang Yudi, yang pertama kali turun kemudian Yudi membuka helmnya sesaat sebelum ikutan turun dari motor.
“Thanks yah Ra...” Ujar Yudi.
“Iya Ar... sama-sama.” Balas gadis itu.
“Mau mampir gak?” Tanya Yudi yang sebetulnya mencoba basa-basi. Lalu, tampak gadis itu menoleh sesaat ke rumah Yudi. Kemudian, tersenyum hangat sambil menatap wajah Yudi yang kini berdiri persis dihadapannya.
Gadis itu, hanya sebatas pundak Yudi saat mereka berdiri berdekatan.
“Hmm, gak berubah yah rumah loe.” Kata Rara masih saja tersenyum.
“Hehehe, yah seperti yang kamu liat.” Balas Yudi sambil menarik nafasnya dalam-dalam.
“Tetangga idola loe mana?” Tanya Rara mengingatkan ke Yudi tentang se-seorang yang dulu menjadi adik kelas mereka saat di SMP.
“Ohh, gak tau kemana.” Balas Yudi sekadarnya.
“Loh... kalian udah gak berhubungan lagi?”
“Masih kok... kan, sejak dulu kami hanya sahabatan doank.” Kata Yudi membuat Rara hanya menghela nafasnya yang terasa sedikit berat.
“Ohh...”
Saat mereka sedang asyik mengobrol, dari jarak beberapa meter. Lebih tepatnya, di depan pagar tampak seorang gadis yang sengaja menyembunyikan dirinya dibalik pagarnya sedang memperhatikan mereka.
Raut wajah yang sangat sukar di gambarkan dengan kata-kata. Yah, gadis yang sedang memperhatikan Yudi dan Rara dari kejauhan tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya saat ini.
“Oh iya, gue dah mau cabut nih Ar.” Ujar Rara.
“Yakin gak mau mampir?” Tanya Yudi.
“Hmm, lain kali aja deh... Kan besok-besok masih bisa.” Jawab Rara mencoba menolak permintaan Yudi secara halus.
“Ya sudah deh...”
“Ya udah, sini helm gue.” Kata Rara meminta helm yang masih dipegang oleh pria itu.
“Nih...”
“Gue balik dulu yah Ar.” Kata Rara setelah memasang helm dikepala, kemudian membuka kaca pelindung wajah.
“Sipp... ti hati yah.”
“Ok bos...” BRUMMMMMM!!!
Yudi menatap kepergian Rara yang mulai menjauh dari lorong gank kompleks-nya. Lalu, saat setelah menghela nafas akhirnya Yudi membalikkan tubuh dan melangkah masuk ke rumah.
Saat Yudi baru saja memegang pintu pagar, tiba-tiba gadis yang sejak tadi memperhatikannya dengan tergesa-gesa mendekati Yudi.
Beberapa detik, gadis itu mencoba mengatur nafasnya dan mencoba memikirkan kalimat yang tepat yang akan ia ucapkan.
Yudi yang merasa ada seseorang di belakangnya, sesaat mengernyitkan keningnya.
Seperti gerakan slow motion, Yudi menoleh kebelakang sesaat. Degh!!!
Saat mengetahui siapa yang berada dibelakangnya, Yudi kembali menatap ke depan.
“Eh... Baru pulang yah?” Suara gadis itu terdengar berserak membuat Yudi mencoba menetralkan perasaannya.
“I-iya...”
“Ohh...” Gadis itu menarik nafas dalam-dalam, kemudian memilih meninggalkan Yudi yang masih berdiri mematung di depan pintu pagar.
Saat langkah kaki gadis itu terdengar ditelinga Yudi yang makin menjauh darinya, sekejap ia membalikkan tubuhnya.
“Vi...” Degh!!! Gadis itu menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke belakang. “Kamu baik-baik saja?”
Gadis itu menarik nafasnya dalam-dalam, sesaat sebelum ia menjawab pertanyaan Yudi hanya dengan gelengan kepala.
“Ohh...” Hanya satu kata itulah yang bisa terucap di mulut pria itu.
“Adalagi?” Tanya gadis itu yang masih membelakangi Yudi.
“Gak ada...” Kata Yudi.
“Kalo udah gak adalagi... Gue pergi dulu.” Kata gadis itu tanpa sedikitpun menoleh ke belakang.
Tidak mendapat tanggapan dari Yudi, ia mencoba menahan sesuatu yang tiba-tiba mengganggu perasaannya.
“Selamat yah... dah punya cewek.” DUGH!!!
Yudi membelalakkan matanya, jantungnya berdebar-debar saat mendengar ucapan gadis itu barusan.
Gadis di depannya saat ini, memang Yudi akui selalu beruba-ubah mood. Dan hari ini, terbukti sejak beberapa minggu tak pernah saling sapa. Kini, justru gadis itulah yang pertama menghampirinya.
Apakah, gadis itu ingin mencoba berdamai dengannya?
Ataukah, justru gadis itu akan membuat onar seperti sebelum-sebelumnya jika ada teman cewek Yudi yang datang kerumah?
“Kok diam?” Gadis itu kembali bersuara membuat Yudi makin bingung.
“Punya kebiasaan baru kalo bicara ma orang lain itu harus dengan cara seperti itu yah? Membelakangi orang!Huh?” Tanya Yudi.
“Tadi cewek loe yah?”
“Kalo iya kenapa... kalo bukan kenapa?” Yudi bertanya balik dengan nada yang sedikit penekanan.
“Gak apa-apa... cuman nanya doank.” Balas gadis itu yang masih saja membelakangi Yudi hingga saat ini.
“Ohh, ya udah... kalo gitu Yudi masuk dulu.” Ujar Yudi sesaat setelah menghela nafasnya yang terasa berat.
“Ok...” Kriekkkk!!! Pintu pagar terbuka, dan Yudi segera melangkah masuk. Dan bersamaan juga, gadis itu membalikkan tubuhnya. Menatap sosok Yudi yang mulai menjauh darinya.
Setelah tarikan nafas panjang...
Gadis itu mulai mengeluarkan suaranya kembali.
“BESOK... LOE ADA ACARA GAK?” DUGH!!!
Still Continued...
.png)


