PERJALANAN HIDUP [By : Tj44]

Mei 28, 2018 0 Comments


Mohon Maaf ke pada penulisnya saya posting ke blogger saya....
Karena Supaya tidak Hilang kalau ada yang mencari cerita ini ......

     bukan asal sekedar copypaste 
         TERIMA KASIH 




PROLOG




Kadang-kala sejauh apapun kalian mencari cinta sejati, tanpa kita sadari justru cinta kalian ada di sekitar kalian saat ini.

Begitupula yang terjadi dalam kehidupan pria yang berprawakan biasa saja. Anak dari seorang ayah berdarah Arab – Gorontalo, dan Ibu yang berdarah Ambon – Makassar. Pria yang mempunyai nama lengkap Arfandy Yudhistira Pradana (AYP). TS Say “Mirip nama initial pemeran salah satu cerita ane yah.”

Pria yang akrab dipanggil Yudi ini baru saja lulus disalah satu Sekolah Menengah Kejuruan di Makassar. Dan berhasil mempertahankan nilai beserta Ranking 2 di sekolahnya.


Setiap harinya, Yudi hanya bermodalkan 5 ribu perak ke sekolah. Dan pergi-pulang hanya berjalan kaki. Yudi tak pernah sama sekali mempersoalkan kondisinya saat ini, bisa melanjutkan sekolah-nya hingga saat ini saja sudah jauh lebih dari cukup. Berhubung juga karena kondisi keluarganya yang cukup memprihatinkan.


Back to Story...


Sore ini, Yudi sedang duduk di ruang tamu-nya yang berukuran kecil. Karena jaman ini, belum ada HP maupun internet maka yang Yudi lakukan hanya membaca beberapa buku untuk menambah pengetahuannya. Dan mempersiapkan untuk ujian tes di perguruan tinggi nantinya.


Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu depan. Tok...Tok...Tok!!!


“Hadehhh... pasti dia lagi nih.” Gumam Yudi pelan saat mendengar suara ketukan tersebut. “Masuk...” Lanjutnya, dan enggan untuk berdiri membukakan pintu kepada tamu di depan.

Tentu saja, Yudi mengetahui siapa yang datang sore gini. Tak lain, nenek sihir yang seringkali mengganggu kehidupannya.

“Assalamualaikum...” Seorang gadis masih memakai seragam sekolah baru saja membuka pintu, sambil tak lupa memberikan salam.

“Wa’alaikumsalam... Tumben, sopan bener.” Kata Yudi memicingkan matanya sambil menatap sosok gadis yang masih berdiri di hadapannya.

“Hehehe, sekali-sekali lah Kak.”

“Kak?” Dalam hati, Yudi berfikir pasti gadis ini akan menyusahkan hidupnya lagi.

“Hiihihihihi, kan emang ente lebih tua dari gue.” Ujar gadis itu sambil tertawa kecil.


Sejujurnya, meskipun gadis ini seringkali mengganggu kehidupan Yudi. Namun, dihati kecil Yudi yang paling dalam tak bisa di pungkiri bahwa dia menyukai sosok gadis yang bernama lengkap Andi Alivia Purwaningsih.

Vivi, panggilan akrab gadis itu. Tanpa di perintah langsung berjalan masuk ke dalam. “Eh mau kemana?”

“Ngambil minum.” Ujar Vivi cuek.

“Ckckckckckc... kebiasaan.”

“Biarin... wek.” Kata Vivi yang telah kembali sambil membawa segelas air.


Gadis itu segera duduk di samping Yudi, lalu menatap wajah Yudi dari samping. “Sibuk bener.” Kata Vivi, sambil kedua matanya melirik sebuah buku yang dipegang oleh Yudi.

“Yah persiapan UMPTN nanti nyet.” Kata Yudi.

“Bagus...Bagus, biar bisa jadi orang sukses nantinya.” Ujar Vivi nyengir.

“Emang!!!”

“Ih galak amat.” Kata Vivi sambil menyenggol pelan lengan Yudi. “Eh btw... tante ma om kemana?”

“Mamah ke rumah tante Ida yang di Minasa Upa... Kalo Papah, lagi ada kerjaan di sebelah lorong.” Kata Yudi menjawab pertanyaan gadis itu.

“Ohhhh...” Kata Vivi sambil manggung-mangguk gak jelas.


Kini, Vivi menggoyang-goyangkan kedua kakinya bergantian. Terlihat jelas, gadis itu sedang memikirkan sebuah kalimat untuk ia kemukakan kepada Yudi.


“Sok mikir.” Yudi nyeletuk, sambil mentoel kening gadis itu.

“Ihhh apaan sih.” Protes Vivi, dan tampak sangat manis senyuman gadis berdarah Bugis itu.

“Pasti kamu kesini pengen minta bantuan kan?” Tanya Yudi.

“Hihihihi, kok bisa nebak apa yang Vivi pikirin.” Ujar Vivi membuat Yudi hanya geleng-geleng kepala.

“Kan emang biasanya seperti itu...”

“Iyakah?” Ujar Vivi, sambil jari telunjuk kanannya ia letakkan di dagu. Menatap langit-langit seperti sedang berfikir.

“Jiahhh... sok loe ah.”


“Ituloh Yud...” Belum sempat Vivi melanjutkan ucapannya, Yudi menyela.

“Nah kan, kata Kaknya dah hilang.” Kata Yudi membuat Vivi menepuk jidatnya sendiri.

“Hahahahahaha, iya yah Lupa...”

“Dasar... Ya udah buruan, apa gerangan tuan putri sore-sore gini datang ke rumah Newbie yang hina dina ini?” Kata Yudi kembali.

“Nanti malam, teman Vivi tuh ngadain acara Ultah gitu Yud... terus mapa gak ijinin kalo gak ada yang temanin kesana.” Ujar Vivi membuat Yudi ngangguk-ngangguk di sampingnya.

“Dan...?”

“Hihihi, kecuali Yudi temanin Vivi pergi... Pasti Mapa ijinin deh. Secara kan, ente adalah cowok OK BGT yang sering di bangga-banggakan ma ortu-ortu cerewet di lorong ini.” Ujar Vivi membuat kening Yudi mengernyit. “Yaiyalah... Secara gitu, Rajin sholat... Rajin belajar... Rajin membantu orang tua... Apalagi yah... Hmm.”

“Apalagi?” Tanya Yudi geleng-geleng kepala.

“Pintar! Hihihihi...” Kata Vivi membuat Yudi menarik nafasnya dalam-dalam. Tentu saja, type Vivi jika tak diturutin kemauannya bakalan ngamuk di depan kedua orang tua Yudi.

“Ada-ada aja kamu Vi.”

“Emang bener kan?” Tanya Vivi sambil menoleh dan menatap wajah Yudi.

“Hmm, maybe!” Jawab Yudi sambil menggerakkan kedua bahunya.

“Jadi loe bisa kan temani Vivi ntar malam?” Tanya Vivi sambil menatap wajah Yudi dengan penuh harap.

“Tergantung sih.”

“Tergantung apanya?” Tanya Vivi mengernyit.


“Tergantung bayarannya... Hahahahahaha.” Kata Yudi membuat Vivi cemberut. “Bercanda kok nona manis.” Lanjut Yudi, sambil mengusap kepala gadis itu.

“Thanks yah kakak Yudi yang paling ganteng.”

“Tuh, kalo kemauannya udah diturutin manjanya gak ketulungan.” Kata Yudi membuat Vivi hanya nyengir.

“Hihihi, biarin... Vivi gitu loh.” Ujar Vivi sambil berdiri dan bersiap-siap meninggalkan rumah Yudi.

“Lah... udah? Gitu aja?” Tanya Yudi menatap Vivi yang hanya bisa nyengir.

“Iya... Dah ah, awas loh... ntar jam 7. Jangan TELAT!” Kata Vivi, lalu melangkah meninggalkan Yudi yang hanya bisa menatap kepergiannya.

“Fiuhhh, Vi vi... Ckckckckck.” Gumam Yudi saat gadis itu telah pergi. Sesaat, ia menghela nafas kemudian melanjutkan kegiatannya yang sempat terputus oleh kehadiran Vivi.


~•●•~


Pukul 07:00 Malam...




Setelah bersiap-siap, dengan hanya memakai kaos oblong beserta jeans Denim kini Yudi telah berdiri di hadapan kedua orang tuanya yang sedang duduk di teras rumah.

“Loh... mau kemana Yud?” Tanya Mamahnya yang pertamakali menyadari kedatangan anak semata wayangnya.

“Pasti anaknya puang Andi lagi kan?” Ujar Papahya menimpali.

“Hihihi, iya tuh... si monyet kecil ngajakin Yudi.” Kata Yudi sambil nyengir.

“Hushhhh... apaan sih nak, ntar orang tuanya dengar. Kan gak enak.” Kata Mamahnya memperingatkan ke Yudi. Karena biar bagaimana, kedua orang tua Vivi cukup disegani di kompleks mereka.

“Iya mah... becanda.” Kata Yudi, “Ya udah kalo gitu, tuan putri katanya mau dijemput di rumahnya... Biar diberi izin ma papah mamahnya.”

“Ohhh, udah bisa ditebak.” Kata Papahnya membuat Mamahnya hanya geleng-geleng kepala.

“Ya sudah... INGAT!!! Pesan mamah selama ini... Kita orang susah nak. Jangan berbuat yang tidak-tidak diluar sana yah.” Ujar sang Mamah membuat Yudi tersenyum.

“Inysa Allah mah... Yudi akan selalu mengingat pesan-pesan dari mamah dan papah.” Kata Yudi membuat kedua orang tuanya hanya bisa menarik nafas.

“Jangan pulang sendiri... wajib, membawa pulang Alivia ke rumah-nya yah. INGAT itu.” Kata Papahnya. “Jangan terlalu malam juga kalian pulang.”

“Beres bos... ya sudah, Yudi berangkat dulu yah.. Mah... Pah.” Kata Yudi, sambil tak lupa menyalim tangan kedua orang tuanya bergantian. “Assalamualaikum...”

“Wa’alaikumsalam wr wb...” Jawab kedua orang tua Yudi yang hampir bersamaan.


Setelah keluar dari rumah, Yudi hanya butuh melewati 1 rumah saja hingga ia telah tiba di depan pagar rumah Vivi. Sebuah rumah, berlantai dua kini tepat dihadapan Yudi.

Setelah menekan bel di samping pagar, tak lama pintu pagar rumah tersebut terbuka. “Assalamualaikum.” Yudi memberi salam setelah pintu pagar terbuka, dan tampak seorang wanita setengah baya yang terlihat masih cantik langsung tersenyum saat mengetahui bahwa yang menekan bel adalah Yudi.

Seorang pemuda yang terkenal di kompleks rumahnya adalah pemuda yang baik. Soleh dan suka membantu kedua orang tuanya.

“Wa’alaikumsalam... Eh nak Yudi.” Kata wanita itu.

“Hehe, oh iya puang... Vivinya ada?” Tanya Yudi, karena dibenaknya pasti Vivi sudah mengatakan sebelumnya jikalau ia keluar bareng Yudi.

“Tuh, ntar lagi selesai dandannya... pasti kamu di paksa ma dia lagi yah untuk nemenin ke acara ulang tahun temanya?” Yudi hanya bisa nyengir saat mendengarnya.

“Ya sudah masuk dulu Yud.”

“Iye Puang...”


Setelah tiba di dalam rumah, tak lama Vivi keluar dengan dandanannya yang sederhana tapi cukup terlihat cantik dihadapan Yudi. Beberapa detik, Yudi hanya bisa menatap sosok Vivi dihadapannya. Lalu, mulai memalingkan wajahnya ke samping.

“Cie...cie... gak usah malu-malu gitu kali Yud. Bilang aja, kalo Vivi cantik.” Kata Vivi sambil terlihat berlenggak santai dihadapan Yudi.

“Hush... udah syukur nak Yudi mau nemenin kamu Vi.” Kata Mamah gadis itu sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan putrinya. “Nak Yudi... jangan terlalu malam pulangnya yah.”

“Iye puang.” Jawab Yudi dengan sopan.

“Ya udah... Yuk.” Kata Vivi, lalu melangkah keluar membuat Yudi geleng-geleng kepala.

“Liat tuh Yud... keluar rumah aja, lupa memberi salam.” Ujar mamahnya Vivi membuat gadis itu menghentikan langkahnya di depan pintu.

“Eh lupa... Hihihi, Assalamualaikum. Mah, Vivi pergi dulu yah.” Ujar Vivi.

“Wa’alaikumsalam... Hati-hati.”

“Beres bos.”

“Puang... Yudi pergi dulu.” Kata Yudi yang masih berdiri disamping mamah Vivi.

“Iya nak... ingat pesan tante yah. Pulangnya jangan terlalu malam... dan usahakan, kalo Vivi gak mau pulang kamu paksa aja.”

“Iye puang. Yah sudah, Yudi pamit.” Ujar Yudi, lalu sesaat berdiri dihadapan wanita itu dan mengulurkan tangan untuk menyalim. “Assalamualaikum wr wb.”

“Wa’alaikumsalam...” Setelah tangan wanita itu disalim oleh Yudi, maka pemuda pemudi itu pergi meninggalkan rumah. Dan tampak, sesaat wanita itu menatap kepergian Yudi sambil menarik nafasnya dalam-dalam.

“Anak yang sopan.” Gumam wanita itu, lalu menutup pintu rumah.



Beberapa saat kemudian...




Dengan bermodalkan angkot, akhirnya mereka tiba di sebuah Mall yang terletak di jalan Sungai Saddang.

Setelah membayar angkot, kini mereka berdua berjalan masuk kedalam Mall.


“Thanks yah Yud... udah mau nemenin Vivi. Hihihhihi,” Kata Vivi, sambil menghentikan langkahnya lalu menoleh kesamping.

Yudi paham, tabiat gadis itu. Maka, setelah menarik nafasnya dalam-dalam Yudi akhirnya mengangguk seakan mengerti apa yang akan dikatakan oleh gadis itu kemudian.

“Terus?” Tanya Yudi menatap wajah Vivi.

“Anu... itu Yud, boleh gak-“ Belum sempat melanjutkan ucapannya, Yudi menyela.

“Boleh... nanti, berapa lama Yudi menunggu?” Tanya Yudi yang sudah mengerti keinginan gadis itu.

“Hihihi, 2 jam boleh?” Tanya Vivi sambil memasang wajah penuh permohonan.

“Hmm, ok... Jam 9.15 kita ketemu di sini lagi.” Ujar Yudi.

“Beres Bos... Eh nanti Yudi mau kemana?” Kata Vivi lalu melontarkan pertanyaan.

“Paling nyari-nyari cafe lain biar Yudi gak BT menunggu.” Jawab Yudi membuat Vivi mengernyit.


“Emang ada duit?” Tanya Vivi.

“Yah, kalo hanya untuk bayar segelas juice sih ada kok.” Kata Yudi, yang sebenarnya bohong.

“Hihihi, ya sudah...” Ujar Vivi mengehela nafas. Sejujurnya gadis itu tak tega meninggalkan Yudi sendiri. Namun, ada satu hal yang sebetulnya tak bisa gadis itu ungkapkan di hadapan pria itu. “Kalo gitu, Vivi lanjut yah.”

“Ok...” Kata Yudi sambil mengangguk dan memasang senyumannya dihadapan gadis itu.

“Duhh, senyuman loe ihhh... ganteng banget.” Kata Vivi membuat Yudi geleng-geleng kepala.

“Udah sana...”

“Oke oke... bye Yudi ganteng.”

“Hmm,”


Yudi hanya bisa menahan nafas sambil menatap kepergian gadis itu menuju ke suatu tempat. Setelah, gadis itu tak terlihat lagi akhirnya Yudi bisa bernafas lega.

“Fiuuhhh, nah sekarang aku harus nunggu dimana? Mana, duit gak ada pula di kantong.” Gumam Yudi sambil sesekali menarik nafasnya yang terasa cukup berat.

Setela berfikir, akhirnya Yudi memutuskan untuk keluar dari Mall. Dan, tempat yang ia pilih untuk menunggu selama 2 jam. Adalah, dekat parkiran motor Mall.


~•●•~


Ditempat berbeda...


Suasana Cafe yang terletak di lantai 3 Mall. Kini, terlihat ramai. Semua teman-teman Vivi telah tiba. Tak lupa, beberapa gadis terlihat cipika cipiki saat mereka bertemu. Dan, komplotan Vivi memilih salah satu meja yang terletak di pojok kanan.

“Eh Vi... bareng siapa kesini?” Tanya salah satu sahabat Vivi.

“Hehehe, sendiri lah... emang mau sama siapa lagi?” Jawab Vivi membuat kawanannya mengernyit.

“Tumben di ijinkan.” Celetuk salah satu sahabatnya lagi.

“Ya iyalah... kan, udah gede.” Kata Vivi membuat kawanannya hanya bisa geleng-geleng kepala.

“Eh... denger-denger loe dah jadian ma kak Evan?” Tanya sahabat Vivi bernama Rini.

Tampak Vivi menatap ketiga sahabatnya sambil memasang wajah semanis mungkin. “Dihhh, sok loe ah.” Ujar Desy salah satu sahabat Vivi juga.

“Kasih tau gak yah.” Gumam Vivi.

“Duh, sakit tau.” Tiba-tiba, Rini mencubit lengan Vivi membuat gadis itu meringis sakit.

“Makanya, buruan terus terang ke kami.”

“Iya... sok pake rahasiaan segala.”

“Tunggu aja orangnya... biar orangnya aja yang jelasin nanti.” Jawab Vivi membuat ketiga sahabatnya hanya bisa ngedumel dalam hati.


“Emangnya kak Evan datang juga?” Saat Rini bertanya, bersamaan sosok pria telah berdiri di samping meja mereka.

“Tuh orangnya.” Kata Vivi membuat ketiga sahabatnya menoleh ke samping.

“Eh kak Evan.”


“Boleh gabung?” Kata pria bernama Evan. Kakak kelas ke-empat sahabat tersebut.

“Boleh donk...” Ujar Desy. Dan, pria itu akhirnya mengambil posisi tepat disamping Vivi.

“Hi sayang... sorry, tadi macet.” Kata Evan menyapa Vivi yang sudah langsung tersipu malu.

“Hidiiihhhh, pake acara sayang-sayangan pula.” Celetuk Dira salah satu gadis yang sejak tadi enggan bersuara.


Akhirnya, tak lama mereka mengobrol santai. Ngarul-ngidul tak jelas, sambil menikmati jalannya acara ulang tahun teman mereka.

Sesekali mereka tertawa melihat kekonyolan baik Vivi maupun para gadis lainnya.

Tak sedikitpun, terlukis diwajah Vivi sedang mengkhawatirkan seseorang.

Seseorang yang sejak tadi menunggu dengan sabar di luar Mall.


Hal itu dikarenakan, gadis itu cukup disibukkan dengan obrolan. Apalagi, kini tangannya telah digenggam oleh pria bernama Evan. Seorang pria, yang seminggu lalu telah menyatakan cinta kepada Vivi.




Beberapa saat kemudian...


2 Jam lamanya, akhirnya acara-pun selesai. Vivi, dan ketiga sahabatnya kini berdiri di depan Cafe. Sedangkan Evan, baru saja tiba dari toilet.

“Oh iya, kalian pulang bareng atau?” Tanya Evan.

“Gue dijemput ma bokap kak.” Ujar Rini.

“Sama,” Ujar Desy dan Dira yang hampir bersamaan.

“Kamu yank?” Tanya Evan menatap Vivi.

“Hmm, naik angkot kayaknya.” Jawab Vivi nyengir.

“Ya elah... kan ada kak Evan, ngapain juga naik angkot pulang.” Ujar Rini. “Iya enggak kak?”

“Hmm, kalo di ijinkan sih... Evan pengen ngantarin pulang.” Kata Evan membuat Vivi tersipu.

“Yaelah nih anak... pake acara malu-malu segala.” Ujar Desy membuat mereka tertawa bersamaan.


“Dah ah... kami balik duluan yah.” Ujar ketiga sahabat Vivi membuat Vivi dan Evan saling bertatapan.

“Ya udah... sampai ketemu besok yah say.” Ujar Vivi.


Dan, setelah mereka tinggal berdua. Akhirnya, Evan memberanikan menggenggam tangan gadis itu.

“Gimana yank?” Tanya Evan.

“Gimana apanya kak?” Tanya Vivi menunduk.

“Mau Evan anterin pulang gak?”


Sesaat, Vivi berfikir dan menimbang-nimbang apakah ia menyetujui permintaan Evan atau tidak. Namun, tak sedikitpun terlintas dipikiran gadis itu tentang se-seorang yang setia menunggunya diluar Mall.


“Hmm,”

“Gimana?” Kembali Evan bertanya.


Dengan anggukan pelan, akhirnya Evan tersenyum penuh kemenangan. “Ya udah... Yuk sayang.”

“Yuk kak...” Ujar Vivi, Lalu Evan mengajak Vivi untuk melangkah bersama keluar dari Mall menuju ke parkiran Mobil.





Still Continued…

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard.

0 komentar: