PERJALANAN HIDUP PART 1 [By : Tj44]

Mei 28, 2018 0 Comments

                                                                       ANDI ALIVIA PURWANINGSI

  Beberapa saat sebelumnya...



Karena tak mengantongi uang sepersenpun, akhirnya Yudi memutuskan untuk menunggu Vivi di luar Mall. Hitung-hitung, menghilangkan suntuk sambil menunggu gadis itu selama 2 jam ke-depan.

Suasana parkiran motor cukup ramai. Terlihat beberapa pengendara motor ada yang mengeluarkan motornya dari deretan parkir, ada juga yang memarkir motornya di deretan-deretan berbeda. Sedangkan Yudi, memilih duduk di salah satu motor yang terparkir tak jauh dari pintu masuk parkiran motor. Dan motor ini, adalah motor ke-tiga yang menjadi tempat Yudi untuk duduk menunggu sebuah kepastian... Asyik eh.


Sesekali, security Mall yang bertugas menjaga area parking bertanya ke Yudi. Seperti sekarang, dimana seorang pria yang sama mendekati Yudi kembali.

Mungkin, karena tampang-tampang Yudi sedikit mencurigakan. Apalagi, saat motor pertama dan kedua yang Yudi tongkrongi tadi telah keluar dari parkiran mengakibatkan kecurigaan kembali si bapak security terhadap Yudi. “Malam Mas...”

“Eh... Malam lagi Pak.” Ujar Yudi salah tingkah, saat bapak itu menatap penuh kecurigaan.

“Minta maaf, sejak tadi saya perhatikan mas-nya duduknya berpindah-pindah tempat.” Ujar bapak itu membuat Yudi hanya bisa memasang tampang bodoh.

“Iya Pak... maaf, kebetulan saya sedang menunggu teman disini.” Jawab Yudi yang tampak grogi.

“Mana motor mas disini?” Tanya Bapak itu kembali, tanpa mengalihkan tatapannya.

Sambil garuk-garuk kepala, terlihat jelas kebingungan dalam diri Yudi. Sehingga, sesekali membuat nafasnya terasa berat. “Mas...” Si bapak mencoba mengingatkan Yudi yang 3 detik sebelumnya tak menjawab pertanyaan, malah melamun tidak jelas dihadapan bapak itu.


“Hehe, gak punya motor pak... Kebetulan saja, saya janjian ma teman di parkiran sini.” Kata Yudi.

“Hmm, kalo mau menunggu teman jangan disini mas... takut, terjadi apa-apa nantinya.”

“Oh gitu yah Pak...” Ujar Yudi.

“Iya Mas... sebaiknya mas-nya menunggu di dalam Mall saja. Yang jelas, jangan menunggu disini.” Ujar si bapak, yang sebetulnya Yudi sedikit paham akan maksud si bapak itu. Yaitu, mengusir Yudi secara baik-baik.

“Oh baik pak...” Akhirnya, dengan wajah kekecewaan, Yudi meninggalkan parkiran dan mencari tempat yang cocok untuk menunggu Vivi.


Yudi masih mencoba untuk sabar dengan keadaannya saat ini. Karena, biar bagaimana dia masih memegang amanah dari Mamah Vivi dan juga amanah kedua orang tuanya untuk mengantarkan Vivi pulang ke rumah.

Duduk di samping trotoar seperti pengemis jalanan yang berpakaian anak muda jaman sekarang. Tak lupa, sambil sesekali menepuk nyamuk-nyamuk nakal yang mulai menyerang lengannya. Dengan sabar, Yudi masih mencoba mengalihkan pikirannya ke hal lain. Karena, sedikit lagi maka Vivi pasti akan keluar dari Mall.

Sesaat Yudi melirik arloji di lengan kanannya. Sebelumnya, waktu di parkiran motor tadi. Dimana waktu telah menunjukkan pukul 8 Malam. Atau, dengan kata lain ia telah menunggu Vivi 45 menit lamanya diparkiran. Dan sekarang, tak terasa sudah lewat 10 menitan ia duduk di trotoar. Sambil menatap jalan raya yang masih ramai oleh pejalan kaki dan juga pengendara roda 4 maupun roda 2. Yudi mulai merasa ketidaknyamanan di perutnya.

“Duhhh, nih perut gak bisa di ajak kompromi.” Gumamnya sambil menekan perut bagian bahwanya.

Yudi baru sadar, bahwa ia belum mengisi perutnya sebelum ia pergi tadi. Makanya, saat ini perutnya sudah keroncongan.

Awalnya, Yudi cukup senang saat di ajak ke acara ulang tahun temannya Vivi. Namun, namanya juga rasa senang kadangkala mengalahkan kesadaran kita akan kebiasaan seseorang yang buruk terhadap kita sebelum-sebelumnya.


Yah, Yudi tersadar saat telah tiba di Mall. Saat melihat mimik wajah Vivi yang seakan meminta maaf ke Yudi. Dan melihat hal itu, dalam hati Yudi berkata akan terkena sial lagi untuk kesekian kalinya.


Di tinggalkan oleh gadis itu, yang bukan untuk pertamakalinya.


Dengan sabar, dan ikhlas akhirnya seperti biasa-biasanya. Yudi akan memaafkan kesalahan gadis itu.

Mau gimana lagi, rasa sayang mengalahkan kekesalannya selama ini. Namun, Yudi hingga saat ini tak mampu mengungkapkan perasaannya terhadap gadis itu. Lagian, Yudi sadar akan kondisi keluarganya yang tak sebanding dengan kondisi keluarga gadis itu.



Mungkin, Yudi akan pasrah dengan waktu...


Hingga kapan-pun, Yudi tak akan pernah bisa marah kepada Vivi. Gadis kecil, yang sejak dulu selalu menyusahkan hidupnya. Bahkan, hingga saat ini.

“Fiuhhh, mana nih nyamuk gak bersahabat lagi...” Celetuk Yudi saat baru saja menepuk nyamuk di lengan kirinya.




Beberapa saat kemudian...


Menit berganti jam. Dan kini, setelah melihat arlojinya kembali. Yudi tersadar jika sekarang sudah pukul 9 Malam. Sudah waktunya untuk pulang.

Namun gadis yang di tunggu tak kunjung datang. “Fiuhhh, kebiasaan nih anak...”

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Yudi memutuskan untuk menunggu lagi sebentar sambil sesekali menoleh ke pintu masuk Mall. Siapa tahu, gadis itu sudah keluar tapi Yudi tidak menyadarinya. “Masa iya dia belum selesai...” Gumamnya, lalu ia tersadar saat jam telah menunjukkan Pukul 9 lewat 15 menit.

Tanpak pikir panjang. Akhirnya, Yudi memutuskan untuk masuk kedalam Mall mencari gadis itu.

Berputar-putar mengelilingi Mall namun nihil. Ia-pun tak lupa melaporkan ke operator nama lengkap gadis itu. Namun yang di panggil tak kunjung datang. Bahkan operator berulangkali memanggil nama gadis itu namun hasilnya tetap nihil. “Mungkin udah pulang kali pacar masnya.” Ujar operator kepada Yudi.

“Minta tolong mba, di panggil sekali lagi.” Ujar Yudi dengan raut wajah yang mulai khawatir.

Sekali lagi, operator Mall memanggil nama lengkap gadis itu sesuai yang dituliskan Yudi di secarik kertas. Dan, beberapa menit, orang yang dipanggil tak kunjung datang.

“Nihil mas...” Ujar operator itu kembali.

“Fiuhh...” Sesaat, Yudi menarik nafasnya dalam-dalam. Karena, terasa sangat berat yang ia rasakan saat ini.


Bagaimana, jika Vivi pergi ke tempat lain bersama teman-temannya?

Atau, mungkin sedang pergi dengan seorang pria ke-tempat lain...


Berbagai pertanyaan hinggap di pikirannya saat ini. Apa yang akan ia katakan jika pulang tanpa mengajak Vivi.

Apa yang akan dikatakan oleh orang tua Vivi?


Apalagi, Yudi telah berjanji kepada Mamah Vivi dan juga kedua orang tuanya. Bahwa, ia akan pulang bersama Vivi nantinya. Dan tidak akan pulang terlalu malam.

Dan sekarang, ia harus mencari dimana gadis bernama Vivi itu?


“Mas... mas... kok diam saja?” Suara operator membuyarkan lamunan Yudi.

“Eh iya mba... maaf,”

“Mungkin emang cewek masnya udah pulang duluan...” Kata operator itu, dan tampak Yudi hanya mengangguk pelan seakan membenarkan apa yang dikatakan oleh operator tersebut.

“Maybe mba... oh iya makasih yah mba.” Kata Yudi menyempatkan melempar senyuman. Kemudian, melangkah meninggalkan operator itu untuk mencoba kembali mencari Vivi.

Tak terasa sudah sejam lamanya ia mencari-cari Vivi di Mall. Naik turun lantai, dan keluar masuk toko-toko seperti mencari sesuatu yang hilang. Kepanikan pun menghampirinya.


Betul-betul, kini Yudi telah kebingungan.


Belum lagi, ia tak mempunyai uang untuk bayar angkot. Apalagi, jarak Mall kerumahnya cukup jauh. Dan jika memang ia tidak bertemu dengan Vivi, maka bisa dipastikan bahwa ia harus berjalan kaki pulang kerumah. “Vivi... selalu saja bikin Yudi khawatir seperti ini.” Gumam Yudi.

Sesaat, sambil berdiri di lantai 3 Mall menatap ke lantai 2 dan 1 dari atas. Yudi terlihat mencoba tersenyum dan legowo seakan ingin mengalihkan emosinya terhadap gadis itu.

Kemudian, Yudi kembali melihat arlojinya. Dan ternyata sejak ia berpisah dengan Vivi tadi, ternyata tak terasa sudah 3 jam lamanya bahkan saat ini Mall pun sudah hampir tutup. “Fiuhhh...”


Apalagi yang Yudi tunggu sekarang??


Akhirnya dengan berat hati, Yudi memutuskan untuk pulang kerumah. Tanpa gadis itu, dan tentu saja pulang dengan berjalan kaki.

Pegal dan linu-linu deh tuh kaki...


~•●•~



Present...



Sebuah mobil kijang kotak, baru saja melewati gapura kompleks tempat tinggal Vivi saat ini. Dalam mobil, terlihat sepasang muda-mudi yang sedang di landa asmara. Baik Vivi, maupun Evan tampak tak ingin melepaskan kemesraan mereka yang sebentar lagi akan terpisah.

“Kak.. disini saja.” Ujar Vivi saat tersadar, posisi rumah-nya sudah tak jauh lagi.

“Kenapa tidak di depan rumah kamu saja sayang?” Kata Evan sambil menatap wajah Vivi dari samping.

“Gak enak kak... nanti apa yang akan dikatakan oleh para tetangga.” Kata Vivi, yang sejujurnya dalam hati ia masih belum berani berterus terang kepada kedua orang tuanya. Secara, doi masih dilarang pacaran.

“Hmm kamu masih takut yah, kasih ketemu kakak sama bonyok kamu?” Kata Evan.

“Hmm, belum saatnya kak.” Jawab Vivi.

“Ya sudahlah...” Akhirnya, Evan memarkirkan mobilnya di depan pagar rumah yang terlihat cukup sederhana.


Sengaja Evan tak mematikan mesin mobilnya, dan sesaat ia menoleh ke samping. Meskipun Vivi saat ini masih kelas 2 SMU, namun ia paham betul apa yang di inginkan oleh pria jika berduaan di tempat yang sepi.

“Vi...” Gumam Evan, sambil meraih kembali tangan gadis itu.

“Yah kak...” Balas Vivi sambil tersipu malu.

“Kakak sayang banget ma kamu.” Kata Evan yang mulai melempar kalimat-kalimat rayuan gak jelas.

“Makasih...” Balas Vivi, dan tampak pipinya telah merona akibat malu dihadapan pria itu.


Sesaat, Evan tersenyum hangat dan menatap dua bola mata Vivi. Kemudian, ia mengangkat tangan Vivi lalu punggung tangan gadis itu di kecup. “Muachhh...”

“Ihhh apaan sih kak...” Kata Vivi sambil malu-malu.

“Emang gak boleh?” Tanya Evan, sambil jemarinya mulai bergerak naik menyentuh wajah gadis itu.

“Vivi malu kak...”

“Kenapa mesti malu sayang?” Tanya Evan sambil tersenyum.

“Hihihi, habisnya kak Evan-“ Evan segera menyentuhkan jari telunjuknya di bibir gadis itu, dan juga memotong kalimat yang diucapkan oleh Vivi.

“Stttt... gak usah malu. Toh, kakak juga sayang banget ma kamu.”

“Makasih kak...” Ujar Vivi kembali tersipu, dan sesaat ia menunduk sambil menahan malu yang tiba-tiba menderanya.


Perlahan-lahan, Evan menyentuh dagu gadis itu. Lalu mengangkat wajah gadis itu untuk menatap wajahnya. Tampak, kening gadis itu mengernyit saat kedua matanya bertatapan dengan kedua mata Evan. “Ke-kenapa kak?” Gumam Vivi pelan. Dan, Evan hanya tersenyum manis tanpa menjawab pertanyaan gadis itu.

“Kak Evan mau ngapain?” Kembali, gadis itu bertanya saat merasakan tubuhnya tertarik mendekat ke pria itu. Dan, jantung gadis itu mulai berdetak makin kencang. Saat dimana, Evan telah memejamkan kedua matanya.

“Kak...” Kata Vivi, saat Evan mendekatkan wajahnya.


Perlahan-lahan, Evan mendekatkan wajahnya sehingga berjarak beberapa centi saja dengan wajah Vivi. Keringat membasahi kedua telapak tangan gadis itu yang juga mengetahui apa yang dinginkan oleh Evan kekasihnya.


Sedikit lagi...


“Ka-kak-“ Sayup-sayup, suara Vivi masih terdengar. Dan gadis itu, sepertinya masih enggan menutup matanya. Keningnya pun ikut berkeringat saat bibir pria itu mulai makin mendekat.

“Kak... Jangan!” Akhirnya, Vivi tersadar dan menahan wajah Evan.

Sekali tarikan nafas panjang, Evan akhirnya membuka kedua matanya. “Kenapa Vi?”

“Jangan yah kak...” Gumam Vivi dengan tubuh gemetar.

“Cium doank emang gak boleh?” Tanya Evan tanpa merubah posisinya saat ini.

“Enggak boleh kak.” Ujar Vivi, sambil menggelengkan kepalanya pelan.


“Fiiiiuuuuhhhhh!!!” Karena melihat keseriusan diwajah Vivi, maka Evan menarik nafasnya dalam-dalam. Dan, dalam hati mungkin saat ini dia belum beruntung mendapatkan bibir gadis itu. Tapi, bukan Evan namanya jika tidak bisa menaklukkan gadis bernama Vivi. Gadis periang, lucu dan cantik yang telah mencuri perhatian Evan selama ini di sekolah.

“Makasih kak... sudah mau ngertiin Vivi.” Gumam Vivi, saat pria itu kembali ke posisi duduknya semula.

Bersandar di jok mobil, sambil kedua tangannya mengusap wajahnya. Dengan cara seperti itu, membuat Vivi merasa bersalah di hadapan Evan. Tanpa Vivi sadari, ekor mata bagian kiri Evan sempat meliriknya. Hingga menimbulkan seringaian tipis diwajah Evan, hanya sesaat. Karena, tangan Vivi mulai bergerak menyentuh kedua tangan pria itu.

“Kak... maafkan Vivi yah.” Ujar Vivi.

“Iya Vi... gak apa-apa... Mungkin, kakak terlalu cepat untuk mencium kamu.”

“Enggak gitu juga kak... Sebenarnya Vivi masih takut... jikalau kakak nanti tinggalin Vivi.” Ujar Vivi begitu polosnya.

“Astagaaa... Kakak bersumpah Vi, kakak itu sayang banget sama kamu.” Kata Evan sambil menoleh ke samping.

“Iya Vivi tau... Vivi juga sayang banget sama kakak.”

“Iya, mungkin kakak terlalu memaksa untuk mencium kamu sekarang.” Kata Evan membuat Vivi tersenyum.

“Sabar yah kak... kalo udah saatnya, Vivi akan berikan kok.”

“Iya Vivi sayang...” Kata Evan kembali. “Ya sudah, kamu pulang gih... udah malam,” Lanjut Evan sok jadi The Hero.

“Gak apa-apa kan kak? Kalo Vivi turun sekarang?” Tanya Vivi, karena dalam dirinya sedikit takut jikalau pria itu kembali marah dan tersinggung akan ucapannya sejak tadi.


“Hehehe, gak apa-apa kali Vi. Emang kamu mau nginap dirumah kakak?” Ujar Evan sambil tertawa jahil.

“Ihh enak aja...”

“Ya sudah... kamu masuk gih.” Kata Evan sambil mengelus kepala gadis itu dengan sangat lembut.

“Iya kak... ya udah, kalo gitu Vivi pulang dulu.” Ujar Vivi membalas senyuman pria itu.

“Siap my Lady...” Ujar Evan menggoda gadis itu.

“Ihhh... aya-aya wae kak Evan.”

“Oh iya, Vi.... bentar.” Kata Evan, saat gadis itu baru saja membuka pintu mobil.

“Ada apa kak?”

“Ngecup kening... boleh pa enggak?” Tanya Evan sambil memasang wajah penuh harap. Dan, akhirnya gadis itu mengangguk menyetujui permintaan Evan.

Dengan cepat, Evan meraih kepala gadis itu lalu mengecup keningnya. “Muachhhh!!! See you tomorrow gadis cantikku.”

“See u to kak...”


Setelah Vivi turun dari mobil, Evan akhirnya pamitan untuk pulang dan meninggalkan Vivi berdiri menatap kepergian mobil tersebut hingga berbelok di ujung gank. “Fiuhhh...” Kata Vivi, setelah mobil Evan tak terlihat lagi. “Maafin Vivi yah kak...” Lanjutnya bergumam, kemudian memutar tubuhnya dan seakan ingin melangkah meninggalkan tempatnya saat ini.

“Eh!!!” Namun, tiba-tiba Vivi tersadar saat baru saja membalikkan tubuhnya. Ia tersadar, karena sejak tadi ia dan Evan berhenti tepat di depan pagar rumah Yudi.



Apalagi saat ini terlihat seorang wanita sedang duduk gelisah seakan menunggu seseorang di teras rumah. Akhirnya Vivi tersadar akan sesuatu. “ASTAGAAAA... YUDIII!!! Ekh!” Hampir saja keceplosan, saat Vivi baru saja ingat kalau ia pergi Mall bersama Yudi.

Tidak mau disalahkan, akhirnya Vivi melangkah perlahan-lahan agar wanita yang sedang berdiri di teras rumah Yudi tidak melihatnya berlalu.


Namun naas!!!


Wanita itu menoleh dan melihat Vivi sedang berjalan pelan-pelan di depan rumah. “Eh nak Vi.”

“Ups!!!” Vivi menghentikan langkahnya, lalu menarik nafasnya dalam-dalam sebelum menoleh ke samping. “Fiuhhhh...”

Dengan berat hati, akhirnya gadis itu menoleh dan tertawa kecut. “Yah tante.” Kata Vivi membuat wanita yang berdiri di teras rumah, keluar dari teras mendekatinya.

“Loh, kok kamu sendirian nak?” Tentu saja, melihat Vivi sendirian dan sama sekali tidak melihat Yudi anaknya berada di samping gadis itu, membuat wanita itu panik.

Beberapa detik, dengan jantung berdebar-debar akhirnya Vivi memikirkan kalimat apa yang pantas ia keluarkan untuk menjawab pertanyaan wanita yang sedang berdiri dengan wajah panik menatapnya.

“Eh itu tan...” Perlahan-lahan, Vivi mulai merangkai kalimatnya sambil memasang wajah sedih dihadapan wanita itu.


“Yudi kemana nak?” Tanya wanita itu lagi.

“Yudi gak tau kemana tan... tadi, Vivi cari-cari tidak ketemu.” Ujar Vivi membuat wanita itu makin panik.

“Astagaaaaa... kamu serius nak? Terus anak tante kemana?” Tanya wanita itu membuat Vivi menunduk dan ada perasaan bersalah karena telah berkata bohong dihadapan wanita itu.

“I-iya tan... tadi, saat Vivi ke toilet... tiba-tiba pas kembali, Yudi sudah tidak ada tan.” Kata Vivi, yang sesekali menarik nafasnya yang terasa berat.

“Ya Allah... Yud... Yud, kamu benar-benar sudah buat mamah marah.” Kata Wanita itu, membuat perasaan Vivi makin gak tenang. “Maafkan anak tante yah Vi... duhhh, terus kamu pulang sendiri jadinya?”

“Iya tan... tadi, untung ketemu ma teman Vivi... makanya, Vivi pulang bareng teman.”

“Alhamdulillah kalo gitu, tapi... kok Yudi sampai sekarang belum pulang yah?” Ujar wanita itu dengan wajah yang sedih karena anak semata wayangnya sampai sekarang belum pulang.

“Mungkin, Yudi sudah dijalan juga tan... Kalo gitu, Vivi permisi dulu tante... Nanti, takut mamah nyariin.” Kata Vivi membuat wanita itu hanya bisa pasrah dan mengangguk pelan meng-iyakan permintaan gadis itu.

“Sekali lagi, maafin anak tante yah nak.”

“Iya tan... santai aja, Vivi juga gak marah kok ma Yudi.” Jawab Vivi tersenyum. Dan, sesaat wanita itu menarik nafasnya dalam-dalam. Dan bersyukur, karena gadis itu sama sekali tidak menyalahkan anaknya yang dengan tega meninggalkan gadis itu sendirian di Mall.

“Jangan bilang-bilang ke orang tua kamu yah nak... tante gak enak, kalau kedua orang tuamu tau kalo kamu ditinggal sendiri ma anak tante di Mall.” Ujar wanita itu, sambil memasang wajah penuh harap.

“Santai aja tan... Vivi gak bakal bilang kok.”

“Alhamdulillah... yah sudah, sekali lagi tante minta maaf.”

“Iya tan... Vivi pulang dulu yah tan.” Ujar Vivi, yang sudah tak ingin berlama-lama berdiri disitu, takut Yudi pulang dan bertemu dengannya.

“Iya nak...”

“Assalamualaikum tan...” Ujar Vivi sambil tersenyum dihadapan wanita itu.

“Wa’alaikumsalam...”


Setelah sepeninggalan Vivi, akhirnya wanita itu yang tak lain adalah Mamahnya Yudi menarik nafasnya yang terasa sangat berat. Ingin rasanya, ia memarahi anak semata wayangnya saat pulang nanti. Namun, tiba-tiba ia tersadar dan seperti tidak percaya apa yang dikatakan oleh gadis itu tadi.


Sang ibu, selalu tau dan paham sifat anaknya...

Dan Yudi, bukan type orang yang tidak bertanggung jawab dengan janjinya...

Apalagi, Yudi telah berjanji dihadapannya dan juga sang papah sebelum ia meninggalkan rumah tadi. “Gak mungkin...” Gumam wanita itu, namun ia sadar kalau ini juga pasti Yudi punya salah. Sehingga gadis bernama Vivi tidak pulang bersamanya.

Wanita itu memutuskan masuk ke dalam rumah. Dan memilih menunggu Yudi pulang di dalam rumah saja.


~•●•~


Sejam kemudian...



Dengan jalan yang sempoyongan, tubuh yang terasa sangat lelah. Yudi akhirnya tiba di depan pagar rumahnya. Bayangkan saja, pria itu berjalan kaki selama sejam-an lebih karena tak mempunyai ongkos naik angkot untuk pulang ke rumah.

Di tambah lagi, nafasnya tersengal-sengal. Dahaganya telah kering. Haus, lapar menghinggapinya. Matanya-pun berkunang-kunang, namun sebisa mungkin ia tahan dan melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumahnya.

Akhirnya, Yudi tiba di depan pintu. Lalu, lengan kanannya ter-angkat untuk mengetuk pintu rumah. Tok...Tok...Tok!!! “Assalamualaikum... Hash...Hash!!!” Yudi mengucapkan salam, lalu perlahan-lahan tangannya menggenggam gagang pintu. Ceklek!!! Dan ternyata, pintunya tidak terkunci.

“Wa’alaikumsalam wr wb...” Ternyata, saat Yudi telah masuk. Kedua orang tuanya sedang duduk di ruang tamu dan sempat membalas salam Yudi. Keduanya menatap Yudi penuh amarah.

Apalagi, sang Papah yang wajahnya terlihat tak bersahabat. “Hash...Hash!!! Maafin Yudi mah... Pah... Yudi pulang telat.”

Sontak, emosi sang papah langsung naik melihat anaknya baru saja pulang. Sudah sejam lamanya ia dan istrinya menunggu anak semata wayangnya pulang. Dan, saat jam menunjukkan pukul 10 malam lewat, akhirnya sang anak pulang dengan kondisi yang cukup memprihatinkan.

Namun, untuk melampiaskan kekesalan dan ketidakberdayaannya akhirnya sang Papah mengeluarkan kalimat di hadapan anak dan istrinya. “KAMU DARI MANA? KENAPA JAM SEGINI BARU PULANG?” Hardi sang Papah membuat tubuh Yudi bergetar.

“Yud... kamu darimana nak? Tadi mamah ketemu sama anaknya Puang Andi di depan.” DEGH!!! Sontak, mendengar itu membuat Yudi terdiam.

Dalam hati, ingin sekali mengatakan sejujurnya dihadapan kedua orang tuanya. Namun, ia tak tega jika Vivi disalahkan oleh kedua orang tuanya.


“AYO JAWAB!!!” Kembali, sang papah menghardik Yudi dengan keras.

Yudi tertunduk dihadapan kedua orang tuanya. Menahan rasa lapar dan haus yang menderanya sejak tadi.

“Yud... kenapa diam nak?” Tanya sang Mamah, dan terlihat lengan kanannya bergerak lalu mengusap pundak suaminya. “Papah juga, sabar... Jangan langsung marah ma Yudi.”

“PAPAH MALU PUNYA ANAK YANG TIDAK BISA BERTANGGUNG JAWAB SAMA JANJINYA...” Sang Papah masih saja menghardik Yudi. Melampiaskan amarahnya kepada Yudi, yang di anggap tak mampu menepati janjinya.

“Maafkan Yudi Mah... Pah...” Hanya kalimat itu, yang bisa keluar dari mulut Yudi.

“Udah pah... Mungkin Yudi, punya alasan yang tak bisa diceritakan sekarang. Besok, mamah akan ngobrol ma dia.” Sang Mamah, mencoba menurunkan tensi amarah sang Papah. Sambil tangannya tak henti-hentinya mengusap-ngusap punggung pria itu.

“INI TERAKHIR KALI PAPAH LIHAT... JANGAN LAGI KAMU MENGULANGINYA. CAMKAN itu.”

“I-iya Pah... Yudi janji, tidak akan mengingkari janji Yudi. Dan, akan bertanggung jawab dengan apa yang telah Yudi janjikan.” Ujar Yudi sambil mengangkat wajahnya dan menatap wajah kedua orang tuanya bergantian.

“Ya sudah nak... mending kamu ke kamar kamu. Mamah lihat, kamu kelihatannya capek banget.” Sang Mamah berucap, sambil berdiri mendekati Yudi.


“I-iya Mah...”

“Ya sudah sayang... Yuk.” Ujar sang mamah, sambil memegang lengan Yudi dan mengajaknya untuk masuk.

“Pah... maafkan Yudi.” Ujar Yudi sesaat, membuat sang Papah hanya mengangguk sambil menarik nafas dalam-dalam.


“Kamu udah makan?” Tanya sang Mamah, dan dijawab oleh Yudi dengan anggukan pelan. Yudi memilih untuk berbohong dihadapan kedua orang tuanya. Agar, Vivi terhindar dari amarah kedua orang tuanya.

“Ya sudah... kalo gitu kamu bersih-bersih gih, terus tidur yah sayang.”

“Yudi haus mah... mau ngambil minum dulu.” Kata Yudi membuat sang Mamah mengernyit sesaat, kemudian ia tersenyum dan memilih untuk mengambilkan Yudi segelas air minum.


Saat Yudi telah masuk kedalam kamar. Sambil menunggu sang Mamah membawakan segelas air. Menyempatkan, memikirkan keadaan gadis bernama Vivi. Gadis lucu yang baru saja ia bela di hadapan kedua orang tuanya.

“Fiuhhh, vi...vi... kamu berhasil membuat Yudi sakit hati lagi.” Gumam Yudi, lalu tak lama pintu kamarnya diketuk.


Tampak sang Mamah, telah masuk kedalam kamar dan membawah nampan yang di atasnya telah tersedia segelas air minum dan sepiring nasi lengkap dengan lauknya.

Sesaat Yudi mengernyit, namun sang mamah dengan cepat melempar senyuman dihadapan Yudi. “Seorang ibu, sangat paham betul apa yang terjadi kepada anaknya... Pasti, ini kesalahan Vivi lagi kan? Dan kamu pasti belum makan?”

“Eh...”

“Udah... gak usah bohong sama mamah.” Ujar sang Mamah sambil duduk di samping Yudi. “Nih, kamu makan dulu.”


“I-iya mah...”

“Ya udah... makan dulu gih, mamah tinggal dulu yah. Mau nemenin papah...” Ujar sang Mamah sambil memberikan ke Yudi makan dan minuman tersebut.

“Makasih Mah... sudah percaya sama Yudi.” Ujar Yudi dengan wajah lesu.

“Dan juga, tadi kamu pasti jalan kaki pulang ke rumah kan?” Yudi hanya mengangguk pelan, membuat wanita itu hanya bisa menarik nafas dalam-dalam. Tak mampu lagi berkata apapun dihadapan anaknya. “Ya sudah... habisin makanan kamu.”

“Iya Mah.”


Setelah sepeninggalan sang Mamah, akhirnya Yudi melahap makanannya karena sejak tadi menahan rasa lapar dan haus.



~•●•~




Embun pagi dan udara yang sejuk menyapa Yudi yang baru saja berolah raga pagi.

Semalam, dalam hati yang paling dalam telah memaafkan Vivi atas kesalahan yang gadis itu perbuat terhadapnya. Karena biar bagaimana, ini murni bukan kesalahan Vivi. Mungkin saja, gadis itu saat keluar Mall tidak mendapati Yudi berada di situ. Makanya, gadis itu memilih untuk pulang duluan.


Yudi paham betul kebiasaan gadis itu...

Tidak suka menunggu lama...


Yah, mungkin gadis itu tidak mau menunggu Yudi makanya memutuskan untuk meninggalkan Yudi semalam.

Saat pria itu melangkah menuju kerumah, tiba-tiba dari kejauhan. Sosok gadis berseragam putih abu-abu sedang berjalan ke-arahnya. DEGH!!!

Sebisa mungkin, Yudi memasang senyuman semanis mungkin dan bersiap-siap untuk menayap gadis itu pagi ini.


Saat mata mereka saling bertatapan, Yudi menghentikan langkahnya. Dan tampak Vivi sama sekali tak membalas senyumannya.

Kemudian, saat jarak mereka semeter. Yudi mencoba menyapa gadis itu. “Pagi Vi...” Namun, orang yang ditegur seakan cuek dan seperti sengaja tak menghiraukan Yudi yang sejak tadi berdiri melihatnya.

Gadis itu, hanya berjalan dan menyambar lengan Yudi tanpa menoleh sedikitpun.

Yudi hanya geleng-geleng kepala, kemudian menarik nafasnya dalam-dalam saat gadis itu melangkah dibelakangnya.


Lalu, sekali tarikan nafas. Yudi, mencoba mengeluarkan suara. “MAAF... Semalam sudah ninggalin kamu di Mall.”


Tak ada jawaban...


Lalu, saat Yudi baru saja membalikkan tubuhnya menghadap ke gadis itu...


Tiba-tiba sebuah mobil kijang berhenti tepat di samping jalan. Dan, Vivi tampak melambaikan tangannya ke arah mobil itu.

Sosok pemuda yang memakai seragam yang sama dengan gadis itu, baru saja turun dan berjalan mendekat ke gadis itu. “Yuk sayang.” DEGH!!!





Still Continued...

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard.

0 komentar: